KONSEP-KONSEP DASAR
LINGUISTIKA
RIF’ATUL HANIFAH
122074007/ P.A
DISUSUN UNTUK MEMENUHI
TUGAS TENGAH SEMESTER MATA KULIAH LINGUISTIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
JURUSAN S1 PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2012
DAFTAR
ISI
A. Fonologi.....................................................................................................................
1. PengertianFonologi.......................................................................................
2. Ilmu-ilmu
dalam Fonologi…………………………………………...............
3. Manfaat
Fonologi dalam Penyusunan Bahasa....................................
B. Morfologi.............................................................................................................
1. Pengertian
Morfologi..............................................................................
2. Hakikat
Morfem...................................................................................
3. Macam-macam
Proses Morfologis .............................................
1) Bentuk
dasar
2) Alat
pembentukan
3) Makna
Gramatikal
4) Hasil
Proses Pembentukan
C. Sintaksis
1. Pengertian Sintaksis
2. Jenis-jenis
Sintaksis
1) Kesatuan
Gagasan
2) Kesejajaran
3) Kehematan
4) Penekanan
5) Kelogisan
3. Fungsi
Sintaksis
4. Struktur
Sintaksis
5. Satuan-satuan
Sintaksis
1) Frase
2) Klausa
3) Kalimat
4) Wacana
6. Hal-hal
yang Berkenaan dengan Sintaksis
D. Semantik...........................................................................................................
1. Pengertian
Semantik....................................
2. Hakikat
makna..............................................
3. Janis
Makna
4. Relasi
makna
E. PRAGMATIK
1.
Pengertian Pragmatik
2.
Fenomena Pragmatik
A.FONOLOGI
1.
PENGERTIAN FONOLOGI
Menurut Kridalaksana (2002) dalam
kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki
bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.Dengan demikian, fonologi adalah merupakan
sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi
adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
2.
ILMU YANG TERCAKUP DALAM FONOLOGI
a)
FONETIK
Fonetik Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang
bunyi-bunyi ujar.Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik
diartikan:bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau
fonetikadalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwafonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yangdihasilkan
alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Chaer (2007) membagi
urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjaditiga jenis fonetik, yaitu: 1)
Fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari
bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja. 2) Fonetik akustik
mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam
(bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya.
3) Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa
itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan
dengan dunialingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang
berkenaandengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau
diucapkanmanusia.Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang
fisika, danfonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.
b)
FONEMIK
Fonemik Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi
bahasa yangberfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian
tersebut,fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1)
bidanglinguistik tentang sistem fonem; (2) sistem fonem suatu bahasa; (3)
proseduruntuk menentukan fonem suatu bahasa. Jika dalam fonetik kita
mempelajari segala macam bunyi yang dapatdihasilkan oleh alat-alat ucap serta
bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan,maka dalam fonemik kita mempelajari
dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat
mempunyai fungsiuntuk membedakan arti. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik
mengkaji bunyi bahasa yangdapat atau berfungsi membedakan makna kata.Misalnya
bunyi [l], [a], [b]dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan
perbedaannya hanya padabunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r].Dengan
demikian dapatdisimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda
dalambahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.
3.
MANFAAT FONOLOGI DAN PENYUSUNAN BAHASA
Ejaan adalah
peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi
ujar adalah dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, ejaan pun
menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
Perlambangan
unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar
dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi
ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, bagaimana memenggal suku
kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis
keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsure suprasegmental bunyi ujar
menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jedah dan intonasi.
Perlambangan unsure suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau pungtuasi.
Tata cara
penulisan bunyi ujar ini bias memanfaatkan hasil kajian fonologi,terutama hasil
kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian
fonemik terhahadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis.
B.MORFOLOGI 1.PENGERTIAN MORFOLOGI
Pengertian
Morfologi Bahasa Indonesia Ramlan (1978:19) menjelaskan bahwa morfologi ialah
bagian dari ilmubahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk
bentuk kataserta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan
kata danarti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi
mempelajariseluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata
itu,baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Nida (1949:1) menjelaskan
bahwa morfologi adalah studi tentang morfemdan susunannya di dalam pembentukan
kata.
2.HAKIKAT MORFOLOGI
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf
yang berarti “ bentuk “ dan kata logi yang berarti “ ilmu “. Jadi secara
harfiah kata morfologi berarti “ ilmu “ mengenai bentuk”’
Didalam kajian linguistik, morfologi berarti “ ilmu
mengenai bentuk dan pembentukan kata” sedangkan didalam kajian biologi
morfologi berarti berarti “ ilmu mengenai bentuk – bentuk sel – sel tumbuhan
atau jasad – jasad hidup.
3.MACAM-MACAM PROSES MORFOLOGI
Proses
morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar
melalui pembubuhan afiks ( dalam proses afiksasi ), pengulangan ( reduplikasi
), penggabungan / pemajemukan ( dalam proses komposisi / kombinasi ),
pemendekan ( dalam proses abreviasi ). Dan pengubahan status / pengubahan afiks
yang membatasi makna gramatikalnya ( dalam proses konversi / derivasi ), kata
penghubung intra kalimat dan kata penghubung antar kalimat.
Dalam
proses afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya
menjadi sebuah kata. Berkenaan dengan jenis afiksnya, biasanya proses afiksasi
itu dibedakan atas prefiksasi, yaitu proses pembubuhan prefiks ( awalan ),
konfiksasi yaitu proses pembubuhan konfiks ( apitan ), infiksasi yaitu proses
pembubuhan infiks ( sisipan ), dan sufiksasi yaitu proses pembubuhan sufiks (
akhiran ).
Proses
morfologi melibatkan komponen :
1) Bentuk
dasar
Yaitu
bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi. Bentuk dasar itu dapat berupa
akar seperti baca, pahat, dan juang pada kata membaca, memahat, dan berjuang.
Dalam
proses reduplikasi bentuk dasar dapat berupa akar, seperti akar rumah pada kata
rumah – rumah, dan akar marah pada kata marah – marah.
Dalam
proses komposisi dapat berupa akar sate pada kata sate ayam, sate padang, dan
sate lontong ; dapat berupa dua buah akar seperti akar kampung dan akar halaman
pada kata kampung halaman, atau akar tua dan akar muda pada kata tua muda.
2) Alat
pembentukan ( afiksasi, reduplikasi, komposisi / kombinasi, abreviasi, dan
konversi / derivasi )
Komponen kedua dalam proses morfologi adalah pembentuk
kata. Sejauh ini alat pembentuk dalam proses morfologi adalah :
a. Afiks
dalam proses afiksasi
Proses prefiksasi dilakukan oleh prefiks ber-, me-,
di-, ter-, ke, dan se-; infiksasi dilakukan oleh infiks -el-, -em-, dan -er-;
sufiksasi, dilakukan oleh sufiks –an, -kan, dan –i; sedangkan konfiksasi
dilakukan oleh konfiks pe-an, per-an, ke-an, dan ber-an, di-an.
b. Pengulangan
dalam proses reduplikasi
Reduplikasi dapat terjadi pada bentuk dasar yang
berupa akar, berupa bentuk ber afiks dan berupa bentuk komposisi. Hasil dari
proses reduplikasi disebut dengan istilah kata ulang. Secara umum dikenal
adanya 3 macam pengulangan, yaitu pengulangan secara utuh, pengulangan dengan
pengubahan bunyi vokal maupun konsonan, dan pengulangan sebagian.
c. Penggabungan
dalam proses komposisi / kombinasi.
Penggabungan ini merupakan alat yang banyak digunakan
dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang belum ada wadahnya dalam
bentuk sebuah kata.
Contoh : segitiga, saputangan, matahari, tepuk tangan,
tanggung jawab, air mata.
d. Pendekan
atau penyingkatan dalam proses abreviasi.
Proses pembentukan yang keempat adalah abreviasi khusus yang digunakan dalam proses
akronimisasi. Disebut abreviasi khusus karena semua abreviasi menghasilkan
akronim. Abreviasi dari bentuk Sekolah Menengah Atas menjadi SMA adalah bukan
akronim, tetapi hasil dari abreviasi dari Jakarta Bogor Ciawi menjadi Jagorawi
adalah akronim.
e. Pengubahan
status dalam proses konversi/derivasi.
Koversi atau derivasi lazim juga disebut derivasi
zero,transmutasi atau transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah
dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain,tanpa mengubah bentuk
fisik dari dasar itu.Misalnya, bentuk gunting yang
berstatus nomina dalam kalimat “ gunting ini terbuat dari baja “ dapat diubah
statusnya menjadi bentuk gunting yang berstatus verba, seperti kalimat “
gunting dulu baik – baik, nanti baru dilem.
f.
Kata Penghubung Intrakalimat
adalah kata penghubung
intrakalimat, yaitu kata penghubung yang terletak didalam kalimat, baik dalam
kalimat tunggal maupun dalam kalimat majemuk. Ada kata penghubung intrakalimat
yang harus didahului tanda dan ada pula yang tidak.
1. Kata penghubung intrakalimat yang harus didahului
tanda koma, antara lain sebagai berikut.
a. -, tetapi –
b. -, sedangkan –
c. -, melainkan –
d. -, hanya –
e. -, seperti –
f.
-, antara lain –
g. -, malah – atau -, malahan –
h. -, apalagi –
i.
-, kecuali –
j.
-, yakni –
k. -, yaitu -
l.
-, bahkan –
a. Kata penghubung intrakalimat yang tidak boleh
didahului tanda koma, antara lain sebagai berikut :
b. Jika
c. Apabila
d. Agar
e. Supaya
f.
Meskipun
g. Walaupun
h. Bagaimanapun
i.
Bahwa
j.
Sungguhpun
k. Sebab
l.
Karena
m. Sehingga
n. Sesudah
o. Setelah
p. Sebelum
Misalnya : saya betul – betul
terpesona kepadanya sehingga saya terus menatapnya.
Kata penghubung seperti dan,
serta, atau, tidak boleh didahului tanda koma jika rincian dalam kalimat hanya
dua unsure, tetapi jika rincian dalam kalimat lebih dari dua unsure, kata
penghubung itu harus didahului tanda koma. Contoh :
1. Tas dan buku itu saya letakkan diatas meja. ( dua
unsur )
2. Tas, buku, dan pensil itu saya letakkan diatas meja. (
tiga unsure )
g. Kata
Penghubung Antarkalimat
Adalah kata penghubung
antarkalimat, yaitu kata penghubung yang terletak diawal kalimat.
a. Namun,-
b. Jadi,-
c. Pertama,-
d. Selanjutnya,-
e. Akan tetapi,-
f.
Walau demikian,-
g. Meskipun demikian,-
h. Oleh karena itu,-
i.
Sehubungan dengan itu,-
j.
Lagi pula,-
k. Selain itu,-
l.
Sebaliknya,-
m. Sebenarnya,-
n. Sebagai kesimpulan,-
3) Makna Gramatikal
Makna gramatikal mempunyai hubungan erat dengan
komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses
pembentukan kata.
Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi
akan menampakkan makna atau bentuk dasarnya.
Contoh:bersdasi makna gramatikalnya memakai
dasi,berkuda makna gramatikalnya mengendarai kuda, dan bentuk berdiskusi makna
gramatikalnya adalah melakukan diskusi.
4) Hasil
proses pembentukan
Proses morfologi atau proses pembentukan kata
mempunyai dua hasil yaitu bentuk dan makna gramatikal.Bentuk dan makna
gramatikal merupakan dua hal yang berkaitan erat, bentuk merupakan wujud
fisiknya dan makna gramatikal merupakan isi dari wujud fisik atau bentuk itu.
Wujud fisik dari hasil proses afiksasi adalah kata
berafiks, disebut juga kata berimbuhan, kata turunan atau kata terbitan. Wujud
fisik dari proses reduplikasi adalah kata ulang, atau disebut juga bentuk
ulang. Wujud fisik dari hasil proses komposisi adalah kata gebung, disebut juga
gabungan kata, kelompok kata atau kata mejemuk.
C.SINTAKSIS
1. PENGERTIAN SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa
Yunani, yaitu sun yang berarti ’dengan’ dan kata tattein yang
berarti ’menempatkan’. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama
kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Selain dari bahasa Yunani,
sintaksis juga berasal dari bahasa Belanda yaitu syntaxis. Sintaksis juga berasal dari bahasa Inggris yaitu syntax. Istilah sintaksis (Belanda,
Syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk
beluk wacana, kalimat, klausa dan frase (Ramlan 2001:18).
2.JENIS-JENIS SINTAKSIS
Kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta
dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis
/pembicara.Ciri-ciri kalimat efektif: (memiliki)
1). KESATUAN
GAGASAN
Memiliki
subyek,predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung serta
membentuk kesaruan tunggal.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan)
2). KESEJAJARAN
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan)
2). KESEJAJARAN
Memiliki
kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja
berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.Kalimat itu harus diubah :1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
3). KEHEMATAN
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.Kalimat itu harus diubah :1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
3). KEHEMATAN
Kalimat
efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang
berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud
kalimat.Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.Kalimat yang benar adalah:Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
4). PENEKANAN
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.Kalimat yang benar adalah:Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
4). PENEKANAN
Kalimat yang
dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
• Mengubah
posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan
kalimat.
Contoh :
1. Harapan kami adalah agar soal
ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
2. Pada kesempatan lain, kami
berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
• Menggunakan partikel; penekanan
bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh :
1.
Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
2. Kami pun turut dalam kegiatan itu.3. Bisakah dia
menyelesaikannya?
• Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang
dianggap penting.Contoh :Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru
dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan
adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.
• Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
• Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi
total dan menyeluruh.
5). KELOGISAN
5). KELOGISAN
Kalimat efektif harus mudah
dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki
hubungan yang logis/masuk akal.Contoh :Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.PELATIHANUbahlah kalimat-kalimat di bawah ini menjadi kalimat efektif!1. Seluruh siswa-siswa diharapkan harus mengikuti kerja bakti.2. Para siswa-siswa diharuskan hadir di sekolah.3. Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan.4. Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap5. Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.PELATIHANUbahlah kalimat-kalimat di bawah ini menjadi kalimat efektif!1. Seluruh siswa-siswa diharapkan harus mengikuti kerja bakti.2. Para siswa-siswa diharuskan hadir di sekolah.3. Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan.4. Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap5. Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.
3.FUNGSI SINTAKSIS
Fungsi kajian sintaksis terdiri dari beberapa
komponen. Diantaranya adalah subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.
Dalam blog http://zieper.multiply.com/
memperjelas tentang hakikat dari subjek dan predikat, objek dan pelengkap,
serta keterangan. Semuanya akan dijelaskan sebagai berikut.
a. Subjek dan
Predikat.
1) Subjek merupakan
bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa
atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian
kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan
‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’.
2) Subjek berupa frasa
nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa
nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.
3) Jika diubah menjadi
kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel -kah. Predikat dapat diberi
partikel -kah.
Contoh dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat
adalah, ‘Adik sedang makan’. ‘Adik’ menduduki fungsi subjek, sedangkan ’sedang
makan’ menduduki fungsi predikat.
‘Adik(S) sedang makan(P).’
b. Objek dan
Pelengkap.
1) Objek berupa frasa nomina atau pengganti
frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva,
numeralia, preposisi, dan pengganti nomina.
2) Objek mengikuti
predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semi-transitif dan
pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif(tidak memerlukan
objek).
3) Objek dapat diubah
menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.
Berdasar ada tidaknya objek kalimat dibedakan menjadi
kalimat transitif dan intransitif. Kalimat transitif adalah kalimat yang
memerlukan objek. Sedangkan kalimat intransitif merupakan kalimat yang tidak
memerlukan objek.
Contoh kalimat yang memiliki objek yaitu ‘Kakak sedang
memasak sayur-mayur’. ‘Kakak’ berfungsi sebagai subjek, sedang memasak
menduduki fungsi predikat dan ’sayur-mayur’ merupakan objek.
‘Kakak(S) sedang memasak(P) sayur-mayur(O).’
Untuk kalimat yang memiliki pelengkap adalah ‘Paman
berjualan sayuran’. Subjek diduduki oleh kata ‘Paman’, ‘berjualan’ menduduki
fungsi predikan dan ’sayuran’ sebagai pelengkap.
‘Paman(S) berjualan(P) sayuran(Pel).’
c. Keterangan.
1) Keterangan adalah
bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap.
2) Berupa frasa nomina,
preposisi, dan konjungsi.
3) Mudah
dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat
dan pelengkap.
Contoh kalimat yang memiliki keterangan adalah
‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’. ‘Kemarin’ dan ‘di
pasar induk’ merupakan keterangan, untuk ‘Pak Anwar’ menduduki fungsi subjek.
Kata ‘membeli’ merupakan predikat dan ‘buah-buahan’ adalah fungsi objek.
‘Kemarin(Ket), Pak Anwar(S) membeli(P) buah-buahan(O)
di pasar induk(Ket)’.
4.STRUKRUR
SINTAKSIS
Dalam pembicaraan struktur sintaksis pertama harus
dibicarakan masalah sitakasis, kategori sintasis, dan peran sintaksis.
Anda
tentu telah mendengar istilah subjek, predikat, objek, dan keterangan; juga
istilah nomina, verba, ajektiva, dan numeralia; begitu juga dengan istilah
pelaku, penderita dan penerima.
Kelompok istilah pertama yaitu subjek,
predikat, objek, dan keterangan adalah peristilahan yang berkenaan dengan
fungsi sintaksis.
Kelompok ke-dua yaitu istilah nomina, verba,
ajektiva, dan numeralia adalah peristilahan yang berkenaan dengan kategori
sintaksis.
Sedangkan kelompok ketiga yaitu istilah
pelaku, penderita, dan penerima adalah peristilahan yang berkenaan dengan
sintaksis.
Secara umum
struktur sintaksis itu terdiri dari susunan:
ü subjek (S),
ü predikat (P),
ü objek (O),
ü dan keterangan (K).
Susunan fungsi sintaksis tidak selalu
berurutan S, P, O dan K. Keempat fungsi ini tidak harus ada dalam setiap
struktur sintaksis.Namun banyak pakar yang menyatakan bahwa suatu struktur
sintaksis minimal harus memiliki fungsi Subyek dan fungsi Predikat.
Mengenai harus munculnya sebuah Objek pada kalimat yang Prediatnya bebera verba transitif, ternyata dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang Obyeknya tidak perlu ada, yaitu verba yang secara simatik menyatakan ”kebiasaan” atau verba itu mengenai orang pertama tunggal atau orang banyak secara umum.
Adapula pendapat lain yang menyatakan bahwa hadir tidaknya suatu fungsi sintaksis tergantung pada konteksnya. Umpamanya dalam kalimat jawaban, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Maka yang muncul hanyalah fungsi yang menyatakan jawaban, perintah, atau seruan itu. Para ahli tata bahasa tradisional berpendapat bahwa fungsi Subyek harus diisi oleh kategori nomina, fungsi Predikat oleh kategori verba, fungsi Obyek oleh kategori nomina., dan fungsi Keterangan oleh kategori adverbia. Akibat dari pandangan ini maka kalimat ”dia guru” adalah salah yang seharusnya kalimat itu diberi kata adalah atau menjadi.
Eksistensi struktur sintaksis terkecil di topang oleh urutan kata, bentuk kata yang intonasi. Urutan kata ialah letak atau posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Konstruksi tiga jam memiliki makna berbeda dengan konstruksi tiga jam. Bentuk kata umpamanya kalau kata melirik pada kalimat nenek melirik kakek di ganti dengan dilrik, maka makna kata tersebut menjadi beruah. Alat sintaksis ketiga yang dalam bahasa di tulis tidak dapat digambarkan secara akurat dan teliti yang akibatnya seringkali menimbulkan kesalahpahaman adalah intonasi. Perbedaan modus kalimat bahasa Indonesia tampaknya lebih ditentukan oleh intonasinya daripada komponen segmentalnya. batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi berupa pada naik dan tekanan. Kelompok kata atau frase dalam bahasa Indonesia batasnya juga sering ditandai dengan tekanan pada kata terakhir.
Alat sintaksis yang keempat adalah konektor yang biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. Dilihat dari sifat hubungannya konektor ada dua macam yaitu konektor koordinatif dan konektor subordinatif.
Mengenai harus munculnya sebuah Objek pada kalimat yang Prediatnya bebera verba transitif, ternyata dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang Obyeknya tidak perlu ada, yaitu verba yang secara simatik menyatakan ”kebiasaan” atau verba itu mengenai orang pertama tunggal atau orang banyak secara umum.
Adapula pendapat lain yang menyatakan bahwa hadir tidaknya suatu fungsi sintaksis tergantung pada konteksnya. Umpamanya dalam kalimat jawaban, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Maka yang muncul hanyalah fungsi yang menyatakan jawaban, perintah, atau seruan itu. Para ahli tata bahasa tradisional berpendapat bahwa fungsi Subyek harus diisi oleh kategori nomina, fungsi Predikat oleh kategori verba, fungsi Obyek oleh kategori nomina., dan fungsi Keterangan oleh kategori adverbia. Akibat dari pandangan ini maka kalimat ”dia guru” adalah salah yang seharusnya kalimat itu diberi kata adalah atau menjadi.
Eksistensi struktur sintaksis terkecil di topang oleh urutan kata, bentuk kata yang intonasi. Urutan kata ialah letak atau posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Konstruksi tiga jam memiliki makna berbeda dengan konstruksi tiga jam. Bentuk kata umpamanya kalau kata melirik pada kalimat nenek melirik kakek di ganti dengan dilrik, maka makna kata tersebut menjadi beruah. Alat sintaksis ketiga yang dalam bahasa di tulis tidak dapat digambarkan secara akurat dan teliti yang akibatnya seringkali menimbulkan kesalahpahaman adalah intonasi. Perbedaan modus kalimat bahasa Indonesia tampaknya lebih ditentukan oleh intonasinya daripada komponen segmentalnya. batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi berupa pada naik dan tekanan. Kelompok kata atau frase dalam bahasa Indonesia batasnya juga sering ditandai dengan tekanan pada kata terakhir.
Alat sintaksis yang keempat adalah konektor yang biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. Dilihat dari sifat hubungannya konektor ada dua macam yaitu konektor koordinatif dan konektor subordinatif.
5.SATUAN-SATUAN SINTAKSIS
Dalam
tataran morflogi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah
morfem), tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang
secara hirarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar
yaitu frase. Maka di sini, kata hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dalam
sintaksis. Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata berperanan sebagai
fungsi pengisi sintaksis , sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai
perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan
sintaksis.
1) FRASE
Dalam
sejarah studi linguistic istilah frase banyak digunakan dengan pengertian yang
berbeda-beda. Di sini istilah frase digunakan sebagai satuan sintaksis yang
satu tingkat berada di bawah satuan klausa, atau satu tingkat berada di atas
satuan kata
Ø Pengertian
frase
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal
yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif atau lazim juga disebut
gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat
Ø Jenis
Frase
Dalam pembicaraan tentang frase biasanya dibedakan
adanya frase (1) eksosentrik, (2) endosentrik (disebut juga frase subordinatif
atau frase modifikatif) (3) frase koordinatif dan (4) frase apositif
Ø Frase
Eksosentri adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai
perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.
Ø Frase
Endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya
memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya artinya salah satu
komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.
Ø Frase
Koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari 2
komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat
dihubungkan oleh konjungsi koordinatif baik yang tunggal maupun konjungsi
terbagi.
Ø Frase Apositif adalah
frase koordinatif yang kedua komponenya saling merujuk sesamanya dan oleh
karena itu urutan komponenya dapat dipertukarkan.
Ø Perluasan Frase
Salah
satu ciri frase adalah frase itu dapat diperluas. Maksudnya frase itu dapat
diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan
ditampilkan.
2) KLAUSA
Merupakan
tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah
tataran kalimat.
Ø Pengertian
Klausa
Klausa
adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif.
Artinya di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase yang
berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai objek dan sebagai
keterangan
Ø Jenis
Klausa
Berdasarkan strukturnya dibedakan adanya klausa bebas
dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsusr-unsur
lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat dan karena itu
mempunyai potensi untuk itu menjadi kalimat mayor. Berbeda dengan klausa bebas
yang strukturnya lengkap maka klausa terikat memiliki struktur yang tidak
lengkap unsure yang ada dalam klausa ini mungkin subjek, objek, atau keterangan
saja.
3) KALIMAT
Kalimat merupakan satuan bahasa yang langsung
digunakan sebagai satuan ajaran di dalam komunikasi verbal yang hanya dilakukan
oleh manusia.
Ø Pengertian
Kalimat
Kalimat
adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap
merupakan definisi umum yang biasa kita jumpai.
Ø Jenis
Kalimat
Jenis
kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang :
a)Kalimat
Inti dan kalimat Non-Inti
Kalimat
inti biasa juga disebut kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa
inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif.
Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non-inti dengan berbagai proses
transformasi.
b)Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Perbedaan
Kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya klausa yang ada di
dalam kalimat itu, kalau klausanya hanya satu maka disebut kalimat tunggal,
kalau klausa dalam sebuah kalimat lebih dari satu maka disebut kalimat majemuk
c)Kalimat Mayor dan Kalimat Minor
Pembedaan
kalimat mayor dan kalimat minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa
yang menjadi konstituen dasar kalimat itu kalau klausanya lengkap
sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat maka kalimat itu disebut
kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap entah terdiri dari subjek,
predikat, objek, atau keterangan saja maka kalimat tersebut disebut kalimat
minor
d)Kalimat Verbal dan Kalimat Non-Verbal
Kalimat
verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal atau kalimat yang
predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verbal sedangkan kalimat
non verbal adalah kalimat y6ang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa
nominal, ajektifal, adverbial, atau juga numeralia.
e)Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat
Kalimat
bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau
dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks
lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak
dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraph
atau wacana tanpa bantuan konteks.
f)Intonasi Kalimat
Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat
dari sebuah klausa, sebab bisa dikatakan : kalimat minus intonasi sama dengan
klausa; atau kalau dibalik : klausa plus intonasi sama dengan kalimat. Jadi,
kalau intonasi dari sebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal
adalah klausa.
4) WACANA
Ø Pengetian
Wacana
Wacana
adalah satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan
satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahas yang lengkap,
maka dalam wacana itu berarti konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh.
Yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam
wacana lisan), tanpa keraguan apapun.
Ø Alat
Wacana
Alat-alat
gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif,
antara lain adalah :
1.
Konjungsi : alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat atau
menghubungkan paragraf dengan paragraf
2.
Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, itu sebagai rujukan
anaforis
3.
Menggunakan elepsis yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat
kalimat yang lain.
Ø Jenis
Wacana
Pertama-tama
dilihat adanya wacana lisan dan wacana tulis berkenaan dengan sarananya yaitu
bahasa lisan atau bahasa tulis. Kemudian ada pembagian wacana prosa dan wacana
puisi dilihat dari penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian atau dalam
bentuk puitik. Selanjutnya wacana prosa ini dilihat dari penyampaian isinya
dibedakan lagi menjadi wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi, dan
wacana argumentasi. Wacana narasi bersifat menceritakan suatu topik atau hal;
wacana eksposisi bersifat memaparkan topik atau fakta, wacana persuasi bersifat
mengajak, menganjurkan, atau melarang, dan wacana argumentasi bersifat memberi
argument atau alasan terhadap suatu hal.
Ø Subsatuan
Wacana
Dari
pembicaraan di atas dapat dikatakan wacana adalah satuan bahasa yang utuh dan
lengkap. Maksudnya, dalam wacana ini satuan ide atau pesan yang disampaikan
akan dapat dipahami pendengar atau pembaca tanpa keraguan atau tanpa merasa
adanya kekurangan informasi dari ide atau pesan yang tertuang dalam wacana itu.
6.HAL-HAL YANG BERKENAAN DENGAN SINTAKSIS
MODUS
adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut
tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara atentang apa yang diucapkannya.
Ada beberapa macam modus antara lain : Modus Indikatif atau Modus Deklaratif,
Modus Optatif, Modus Imperatif, Modus Interogatif, Modus Obligatif, Modus
Desideratif, Modus Kondisional.
ASPEK
adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu
situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Dari berbagai macam bahasa di kenal
adanya berbagai macam aspek antara lain aspek kontinuatif, aspek inseptif,
aspek progresif, aspek repetitive, aspek perfektif, aspek imperfektif, aspek
sesatif.
KALA
ATAU TENSE adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya
perbuatan, kejadian, tindakan, pengalaman, yang disebutkan dalam predikat. Kala
lazimnya menyatakan waktu sekarang, sudah lampau dan akan dating.
MODALITAS
adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal
yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa, atau juga
sikap terhadap lawan bicaranya.
FOKUS
adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat kalimat sehingga perhatian
pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.
DIATESIS
adalah gambaran hubungan pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan
yang dikemukakan dalam kalimat itu. Ada beberapa macam diatesis antara lain
diatesis aktif, diatesis pasif, diatesis refleksif, diatesis resiprokal,
diatesis kausatif.
D.SEMANTIK
1.PENGERTIAN SEMANTIK
Kata semantik berasal dari
bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik”
pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada
tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan
untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan
hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan
sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga
tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
2.HAKIKAT MAKNA
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan
Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki
atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda
linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie,
Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant,
Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified)
sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi.
Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang
terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap
tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua
unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk
atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa
(ekstralingual).
Yang
menandai (intralingual) yang ditandai (ekstralingual)
Dalam bidang semantik istilah yang biasa digunakan
untuk tanda-linguistik itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata
atau frase yang merupakan satuan bermakna (Harimurti, 1982:98). Sedangkan
istilah kata,yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri
sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti,
1982:76) adalah istilah dalam bidang gramatika. Dalam makalah ini kedua istilah
itu dianggap memiliki pengertian yang sama.
Yang perlu dipahami adalah tidak semua kata atau
leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Misalnya leksem seperti
agama, cinta, kebudayaan, dan keadilan tidak dapat ditampilkan referennya
secara konkret. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan, yang nyata makna kata
atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian
atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya.
3.JENIS MAKNA
Menurut
Chaer (1994), makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut
pandang. Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal
dan makna gramatikal, berdasarkan ada atau tidaknya referen pada sebuah kata
atau leksem dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferensial,
berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan
adanya makna denotatif dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal
makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan
kriteri lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna
asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik dan sebagainya.
a)Makna
Leksikal dan Makna Gramatikal
Leksikal
adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon. Satuan dari
leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Kalau
leksikon kita samakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem
dapat kita persamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat
diartikan sebagai makna yang bersifat leksiko n, bersifat leksem, atau bersifat
kata. Lalu, karena itu, dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang
sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera,
atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer, 1994).
Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang
dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam
kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau Panen kali ini gagal
akibat serangan hama tikus.
Makna
leksikal biasanya dipertentangkan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal
berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka
makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses
gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi
(Chaer, 1994). Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu
seberat itu terangkat juga oleh adik, melahirkan makna ’dapat’, dan dalam
kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan
makna gramatikal ’tidak sengaja’.
b)Makna
Referensial dan Nonreferensial
Perbedaan
makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidak adanya referen
dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar
bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut disebut kata bermakna
referensial. Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut
kata bermakna nonreferensial. Kata meja termasuk kata yang bermakna
referensial karena mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang
disebut ’meja’. Sebaliknya kata karena tidak mempunyai referen, jadi
kata karena termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
c)Makna
Denotatif dan Konotatif
Makna
denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif
lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi
menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya.
Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Oleh
karena itu, makna denotasi sering disebut sebagai ’makna sebenarnya’(Chaer,
1994). Umpama kata perempuan dan wanita kedua kata itu mempunyai
dua makna yang sama, yaitu ’manusia dewasa bukan laki-laki’.
Sebuah
kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ”nilai rasa”,
baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan
tidak memiliki konotasi. Tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Makna
konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah
dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti ’cerewet’, tetapi sekarang
konotasinya positif.
d)Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap
kata atau leksem memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna kata itu baru
menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau
konteks situasinya. Berbeda dengan kata, istilah mempunyai makna yang
jelas, yang pasti, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh
karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu
diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu.
e)Makna
Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech
(1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Yang
dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem
terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna
konseptual ’sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna
konseptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan
makna referensial.
Makna
asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan
adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya,
kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
f) Makna
Idiomatikal dan Peribahasa
Idiom
adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari makna
unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contoh dari
idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna ’bekerja keras’, meja
hijau dengan makna ’pengadilan’.
Berbeda
dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau
dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ”asosiasi” antara makna asli
dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa Seperti anjing
dengan kucing yang bermakna ’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah
akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan
kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
g) Makna
Kias
Dalam
kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan digunakan sebagai oposisi
dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase,
atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti
konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi,
bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti ’bulan’, raja siang
dalam arti ’matahari’.
4.RELASI MAKNA
disebut relasi makna. Relasi makna dapat berwujud
macam-macam. Berikut ini diuraikan beberapa wujud relasi makna.
Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sinonimi
sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanuya kurang
lebih sama dengan makna ungkapan lain. Umpamanya kata buruk dan jelek adalah du
buah kata yang bersinonim; bunga, kembang, dan puspa adalah tiga kata yang yang
bersinonim. Hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua
arah. Namun, dua buah kata yang bersinonim itu; kesamaannya tidak seratus
persen, hanya kurang lebih saja. Kesamaannya tidak bersifat mutlak.
a)Antonimi dan Oposisi
Secara semantik Verhaar (1978) mendefenisikan antonimi
sebagai: Ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase
atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain.
Misalnya kata bagus yang berantonimi dengan kata buruk; kata besar
berantonimi dengan kata kecil.
Sama halnya dengan sinonim, antonim pun tidak bersifat
mutlak. Itulah sebabnya dalam batasan di atas, Verhaar menyatakan ”…yang
maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain” Jadi, hanya dianggap
kebalikan. Bukan mutlak berlawanan.
Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutnya
oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa tercakup dari konsep yang
betul-betul berlawanan sampai kepada yang bersifat kontras saja. Kata hidup
dan mati, mungkin bisa menjadi contoh yang berlawanan; tetapi hitam
dan putih mungkin merupakan contoh yang hanya berkontras.
b) Homonimi, Homofoni, dan Homografi
Homonimi adalah ‘relasi makna antar kata yang ditulis
sama atau dilafalkan sama, tetapi maknanya berbeda’. Kata-kata yang ditulis
sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf, sedangkan yang dilafalkan sama
tetapi berbeda makna disebut homofon. Contoh homograf adalah kata tahu
(makanan) yang berhomografi dengan kata tahu (paham), sedang kata masa (waktu)
berhomofoni dengan massa (jumlah besar yang menjadi satu kesatuan).
c) Hiponimi dan Hipernimi
Hiponimi adalah ‘relasi makna yang berkaitan dengan
peliputan makna spesifik dalam makna generis, seperti makna anggrek dalam makna
bunga, makna kucing dalam makna binatang’. Anggrek, mawar, dan tulip
berhiponimi dengan bunga, sedangkan kucing, kambing, dan kuda berhiponimi
dengan binatang. Bunga merupakan superordinat (hipernimi, hiperonim) bagi
anggrek, mawar, dan tulip, sedangkan binatang menjadi superordinat bagi kucing,
kambing, dan kuda.
d) Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa
(terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Umpamanya
kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki makna (1) bagian tubuh dari leher
ke atas; (2) bagian dari suatu yang terletak disebelah atas atau depan
merupakan hal yang penting atau terutama seperti pada kepala susu, kepala
meja, dan kepala kereta api; (3) bagian dari suatu yang berbentuk
bulat seperti kepala, seperti pada kepala paku dan kepala jarum;
(4) pemimpin atau ketua seperti pada kepala sekolah, kepala kantor,
dan kepala stasiun; (5) jiwa atau orang seperti dalam kalimat Setiap
kepala menerima bantuan Rp 5000,-.; dan (6) akal budi seperti dalam
kalimat, Badannya besar tetapi kepalanya kosong.
e)Ambiguitas
Ambiguitas
atau ketaksaab sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua
arti. Kegandaan makna dalam ambiguitas berasal dari satuan gramatikal yang
lebih besar, yaitu frase atau kalimat dan terjadi sebagai akibat penafsiran
struktur gramatikal yang berbeda. Umpamanya frase buku sejarah baru
dapat ditafsirkan sebagai (1) buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu berisi
sejarah zaman baru.
f)Redundansi
Istilah
redundansi sering diartikan sebagai ’berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental
dalam suatu bentuk ujaran’. Umpamanya kalimat Bola ditendang Si Badrih,
maknanya tidak akan berubah bila dikatakan Bola ditendang oleh Si Badrih.
Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai sesuatu yang
redundansi, yang berlebih-lebihan dan sebenarnya tidak perlu.
g) Meronimi
Meronimi
adalah ’relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hiponimi karena relasi
maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan pelibatan searah, tetapi
merupakan relasi makna bagian dengan keseluruhan’. Contohnya adalah atap
bermeronimi dengan rumah.
h)Makna Asosiatif
Makna
asosiatif merupakan asosiasi yang muncul dalam benak seseorang jika mendengar
kata tertentu. Asosiasi ini dipengaruhi unsur-unsur psikis, pengetahuan dan
pengalaman seseorang. Oleh karena itu, makna asosiatif terutama dikaji bidang
psikolinguistik. Makna denotatif villa adalah ’rumah peristirahatan di luar
kota’. Selain makna denotatif itu, bagi kebanyakan orang Indonesia villa juga
mengandung makna asosiatif ’gunung’, ’alam’, ’pedesaan’, ’sungai’, bergantung
pada pengalaman seseorang.
i) Makna Afektif
Makna
afektif berkaitan dengan perasaan seseorang jika mendengar atau membaca kata
tertentu. Perasaan yang muncul dapat positif atau negatif. Kata jujur, rendah
hati, dan bijaksana menimbulkan makna afektif yang positif, sedangkan korupsi
dan kolusi menimbulkan makna afektif yang negatif.
j)Makna Etimologis
Makna
etimologis berbeda dengan makna leksikal karena berkaitan dengan asal-usul kata
dan perubahan makna kata dilihat dari aspek sejarah kata. Makna etimologis
suatu kata mencerminkan perubahan yang terjadi dengan kata tertentu. Melalui
perubahan makna kata, dapat ditelusuri perubahan nilai, norma, keadaan
sosial-politik, dan keadaan ekonomi suatu masyarakat.
E.PRAGMATIK
1.PENGERTIAN PRAGMATIK
Pragmatik merupakan cabang ilmu
bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua
dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh
para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa
upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan
tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu
digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan
pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi
ujar (speech situasions).
2.FENOMENA PRAGMATIK
a) Deiksis
Adalah
kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah
(Wijana, 1998: 6). Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk
mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat
ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono, 1995: 217).
b) Praanggapan
(presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang
benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono, 1995: 219). Menurut Nababan
(1987: 46), praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks
dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat
atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu, dan
sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat, dsb)
yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
c) Tindak Tutur
Adalah
tindak tutur yang dilakukan seorang penutur terhadap mitra tutur.
Jenis Tindak
Tutur:
i) Tindak Tutur Langsung: Tindak tutur yang
sesuai dengan fungsi kalimat yang membentuknya. (kalimat berita, tanya dan
perintah)
Contoh: - “Kapan Andi datang?” (kalimat tanya)
- “Silahkan masuk!” (kalimat perintah)
- Zainul pergi ke kampus (kalimat berita)
Informasi indeksal: Ketiga tuturan di atas merupakan contoh tindak tutur langsung, karena ketiganya dibentuk oleh kalimat yang bersifat informatif, introgatif dan imperatif.
Contoh: - “Kapan Andi datang?” (kalimat tanya)
- “Silahkan masuk!” (kalimat perintah)
- Zainul pergi ke kampus (kalimat berita)
Informasi indeksal: Ketiga tuturan di atas merupakan contoh tindak tutur langsung, karena ketiganya dibentuk oleh kalimat yang bersifat informatif, introgatif dan imperatif.
ii) Tindak Tutut Tak Langsung: Tindak tutur
yang tidak sesuai dengan fungsi kalimat yang membentuknya.
Contoh: – Adik, kok nonton TV terus, berapa nilai ulanganmu kemarin?
– Ya, nanti adek belajar.
Informasi indeksal: Tindak tutur yang disampaikan seorang kakak kepada adiknya, karena sang adik menonton TV terus, sedangkan nilai ujiannya kecil. Secara tidak langsung, sang kakak menyuruh adik belajar.
Contoh: – Adik, kok nonton TV terus, berapa nilai ulanganmu kemarin?
– Ya, nanti adek belajar.
Informasi indeksal: Tindak tutur yang disampaikan seorang kakak kepada adiknya, karena sang adik menonton TV terus, sedangkan nilai ujiannya kecil. Secara tidak langsung, sang kakak menyuruh adik belajar.
iii) Tindak Tutur Literal: Tindak tutur yang
memiliki maksud yang sama dengan kata-kata yang menyusunnya.
Contoh: Bagus, berisik aja terus!
Informasi indeksal: Tindak tutur bernada ironis yang disampaikan oleh seorang dosen ketika mahasiswanya berisik. Bukan berarti dia memuji mahasiswa, akantetapi menyuruh mereka untuk tidak berisik.
Contoh: Bagus, berisik aja terus!
Informasi indeksal: Tindak tutur bernada ironis yang disampaikan oleh seorang dosen ketika mahasiswanya berisik. Bukan berarti dia memuji mahasiswa, akantetapi menyuruh mereka untuk tidak berisik.
iv) Tindak Tutur Non-Literal: Tindak tutur
yang memiliki maksud yang berlawanan dengan kata-kata yang menyusunnya.
Contoh: Nilai raportmu bagus, ya!
Informasi indeksal: Tindak tutur yang disampaikan seorang ayah kepada anaknya, ketika melihat nilai raport yang diperolehnya bagus.
Contoh: Nilai raportmu bagus, ya!
Informasi indeksal: Tindak tutur yang disampaikan seorang ayah kepada anaknya, ketika melihat nilai raport yang diperolehnya bagus.
d) Preposisi
Adalah tuturan yang mengandung ada tidaknya
kebenaran pada suatu objek
Contoh: segitiga sama kaki memiliki dua jumlah sudut yang sama
Informasi indeksal: Tuturan tersebut, akan diketahui kebenarannya setelah kita melihat gambar segitiga sama kaki dan mengukur jumlah ketiga sudutnya.
e) Implikatur
Contoh: segitiga sama kaki memiliki dua jumlah sudut yang sama
Informasi indeksal: Tuturan tersebut, akan diketahui kebenarannya setelah kita melihat gambar segitiga sama kaki dan mengukur jumlah ketiga sudutnya.
e) Implikatur
Adalah tuturan yang muncul akibat adanya inferensi
anggapan yang dilatarbelakangi oleh suatu pengetahuan, dan hubungan kalimatnya
tidak mutlak.
Contoh: Bapak datang, jangan menangis!
Informasi indeksal: Tuturan tersebut bukan semata-mata menunjukkan bapak datang dari suatu tempat. Namun, karena kebiasaan bapak akan marah bila melihat anaknya menangis.
f) Entailment
Contoh: Bapak datang, jangan menangis!
Informasi indeksal: Tuturan tersebut bukan semata-mata menunjukkan bapak datang dari suatu tempat. Namun, karena kebiasaan bapak akan marah bila melihat anaknya menangis.
f) Entailment
Adalah tuturan yang hubungan antarkalimatnya bersifat
mutlak atau saling berterima.
Contoh: Andi kehujanan, tubuhnya basah.
Informasi indeksal: Tuturan tersebut merupakan tuturan yang bersifat sebab akibat dan dengan jelas diketahui penyebab tubuh Andi basah, karena dia kehujanan.
Contoh: Andi kehujanan, tubuhnya basah.
Informasi indeksal: Tuturan tersebut merupakan tuturan yang bersifat sebab akibat dan dengan jelas diketahui penyebab tubuh Andi basah, karena dia kehujanan.
g) Analitis
Adalah kalimat yang kebenarannya terletak pada
kata-kata yang menyusunnya
Contoh: Uang adalah alat pembayaran yang sah
Informasi indeksal: kalimat tersebut merupakan suatu definitif yang menyatakan kebenaran makna kata yang menyusun kalimat tersebut.
h) Kontradiktif
Contoh: Uang adalah alat pembayaran yang sah
Informasi indeksal: kalimat tersebut merupakan suatu definitif yang menyatakan kebenaran makna kata yang menyusun kalimat tersebut.
h) Kontradiktif
Adalah kalimat yang kebenarannya bertentangan dengan
makna kata-kata yang menyusunnya.
Contoh: Mata adalah indra pendengar.
Informasi indeksal: susunan kalimat tersebut di atas merupakan kalimat definitif yang menyatakan ketidakbenaran makna kata yang menyusunnya.
i) Sintetis
Contoh: Mata adalah indra pendengar.
Informasi indeksal: susunan kalimat tersebut di atas merupakan kalimat definitif yang menyatakan ketidakbenaran makna kata yang menyusunnya.
i) Sintetis
Adalah kalimat yang kebenarannya terletak pada
fakta-fakta di luar bahasa. Kalimat sintetis terbagi menjadi dua: apabila
kalimat yang menyusunnya sesuai dengan fakta, maka disebut Sintetis Positif,
sedangkan kalimat yang tidak sesuai dengan fakta yang menyusunnya, disebut
dengan Sintetis Negatif.
Contoh:
- Taman Ismail Marzuki terletak di Jakarta Selatan (sintetis negatif)
- Chairil Anwar adalah sastrawan angkatan ’45 (sintetis positif)
Informasi indeksal: pada kalimat pertama, faktanya tidak sesuai dengan kenyataan, maka dari itu disebut sintetis negatif. Sedangkan kalimat ke dua, sesuai dengan fakta yang menyusunnya, maka dari itu disebut sintetis positif.
Contoh:
- Taman Ismail Marzuki terletak di Jakarta Selatan (sintetis negatif)
- Chairil Anwar adalah sastrawan angkatan ’45 (sintetis positif)
Informasi indeksal: pada kalimat pertama, faktanya tidak sesuai dengan kenyataan, maka dari itu disebut sintetis negatif. Sedangkan kalimat ke dua, sesuai dengan fakta yang menyusunnya, maka dari itu disebut sintetis positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar