..

love

Kamis, 30 Mei 2013

Makalah Penelitian Pragmatik

PRAGMATIK
RIF’ATUL HANIFAH
122074007/PA
ABSTRAK
Makalah ini membahas tentang bagian-bagian linguistik yang mengkaji pragmatik dan unsur-unsurnya. Di dalam ruang lingkup pragmatik terdapat konsep-konsep pragmatik salah satunya adalah maksim kuantitas. Maksim kuantitas ini adalah bahan untuk penelitian pada suatu kalimat yang terdapat di dalam bungkus,yang selanjutnya akan di jadikan sebuah makalah. Setelah melakukan penelitian ini, harapan saya mampu menguasai objek linguistik minimal dalam ruang lingkup sehari-hari. Objek linguistik dalam bahasa sangatlah penting, karena dalam setiap ucapan kita harus memaham makna dan maksud ucapan tersebut. Agar kita dapat dengan mudah menangkap dan mengerti setiap ucapan yang di keluarkan oleh orang lain.
Kata kunci : linguistik, pragmatik, dan maksim kuantitas

PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Seorang filosof dan ahli logika Carnap (1938) juga menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak. Pragmatik mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda. Selanjutnya Montague mengatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai “idexical“ atau “deictic“. Dalam pengertian ini pragmatik berkaitan dengan teori rujukan atau deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakaiannya. Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian linguistik, bidang yang merupakan penelitian bagi para ahli bahasa. Pragmatik yang dimaksud sebagai bahan pengajaran bahasa atau yang disebut fungsi komunikatif, biasanya disajikan dalam ajaran bahasa asing. Sebagaimana telah di jelaskan bahwa kajian pragmatik sangat penting bagi seorang ahli linguis, dan perlu kita tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pragmatik?, bagaimana kita harus menggunakan pragmatik dengan benar? mengapa kita harus mempelajari kajian pragmatik?. Dengan munculnya pertanyaan seperti itu kita akan berusaha menjawab bahwa isi dari kajian pragmatik itu adalah bidang yang mengkaji makna penutur,  bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya, bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara, dan bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi participant yang terlibat dalam percakapan tertentu. Setelah kita mengetahui isi dari kajian pragmatik setidaknya kita mampu mengaplikasikan setiap ucapan kita, mengerti maksud dan tujuan ucapan yang kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu pragmatik sangatlah penting dalam mengkaji  setiap ucapan yang kita keluarkan.
Seperti dalam pengertian bahasa , hal-hal di luar bahasa mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa yang terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya kita perlu mengetahui aiapa aja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak social di antara mereka, atau status relative di antara mereka.Rustono (1999:55) menyatakan Prinsip percakapan (Convensional principle) adalah prinsip yang mengatur mekanisme percakapan antar pesertanya agar dapat bercakap-cakap secara kooperatif dan santun. Dari batasan itu dapat dikemukakan bahwa prinsip percakapan itu mencakup dua, yaitu prinsip kerjasama (cooperative principle) dan prinsip kesantunan (politeness principle). Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya bisa relevan dengan situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan dengan lancer. Kaidah-kaidah itu di dalam kajian pragmatic, dikenal dengan prinsip kerja sama.Dalam Kushartanti (2007:106) Grice (1975) mengungkapkan bahwa di dalam prinsip kerja sama, seorang pembicara harus mematuhi empat maksim. Maksim adalah prinsip yang harus ditaati oleh peserta pertuturan dalam berinteraksi, baik secara tekstual maupun interpersonal dalam upaya melancarkan jalannya proses komunikasi. Keempat maksim percakapan itu adalah: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Bahan penelitian saya disini mengacu pada maksim kuantitas, dapat kita  ketahui , maksim kuantitas merupakan suatu tuturan untuk memberikan informasi secara singkat, jelas dan tidak berlebihan. Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin (Rahardi , 2008 : 53 ). Dan pendapat lain dari Kushartanti (2007:106) Grice (1975) mengungkapkan bahwa di dalam prinsip kerja sama yang berdasarkan pada maksim kuantitas, bahwa dalam percakapan penutur harus memberikan kontribusi yang secukupnya kepada mitra tuturnya. Dari kedua pendapat tersebut mempunyai pesamaan yakni suatu kajian yang memberikan informasi atau kontribusi secara tepat. Jadi bahasa adalah salah satu pelajaran yang mengajarkan suatu tata bahasa di dalam tindak ucapan yang mempunyai maksud,arti dan tujuan yang harus di pelajari.
2.      Rumusan Masalah
a)     Mengapa wacana tesebut di analisis sebagai konsep pragmatik?
b)     bagaimana seorang penulis memasukkan wacana tersebut ke dalam analisis maksim kuantitas?
3.      Tujuan Penelitian
a)     Mampu mengetahui dan mengerti tentang arti luas pragmatik.
b)     Dapat membedakan konsep-konsep yang ada dalam pragmatik.
c)      Dapat mengidentifikasi suatu wacana ke dalam konsep analisis pragmatik khususnya tentang maksim kuantitas.
d)     Mengerti maksud dan tujuan yang ada di dalam maksim kuantuitas.


METODE PENELITIAN
Penelitian ini di ambil langsung dari sumber tertulis yang terdapat di sebuah bungkus soffel. Metode penelitian ini dinamakan dengan metode dokumentasi . Studi dokumenter merupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh. Jadi studi dokumenter tidak sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumuen yang dilaporkan dalam penelitian adalah hasil analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut.Metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. Dalam menggunakan metode dokumentasi ini peneliti memegang check-list untuk mencari variabel yang sudah ditentukan. Apabila terdapat/muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan tanda check atau tally di tempat yang sesuai. Untuk mencatat hal-hal yang bersifat bebas atau belum ditentukan dalam daftar variabel peneliti dapat menggunakan kalimat bebas.
Di sini rancangangan penelitian kami tertuju pada sebuah kalimat yang berisi:
Soffel dengan bunga yang segar melindungi anda dari gangguan nyamuk sepanjang malam. Soffel dapat digunakan di muka baik untuk dewasa maupun anak-anak.
PETUNJUK PENGGUNAAN: sebelum tidur, usapakan secara merata pada bagian tubuh yang perlu di lindungi dari nyamuk juga pada daun telinga.
PETUNJUK KEAMANAN: Jangan kena mata atau selaput lendir lainya dan mulut. Hindari penggunaan pada kulit yang luka. Oleskan secukupnya ke bagian tubuh yang perlu, hindari pemakaian yang berlebihan pada anak usia di bawah 6 tahun. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Hindarkan terkena barang-barang plastik atau permukaan yang di cat atau dipelitur. Bila terjadi iritasi, hentikan pemakaian dan lakukan perawatan menurut gejala yang timbul. Data di atas sudah terkumpul, di ambil dari sebuah bungkus di sebuah toko,kemudian data tersebut di olah sesuai dengan kemampuan kita. Selanjutnya yakni penganalisisan, di dalam analisis tersebut kita dapat mengetahui semua maksud dan penjelasan secara detail dari data tersebut sesuai dengan konsep yang sudah di tentukan.








HASIL DAN PEMBAHASAN

 a). Mengapa wacana tesebut di analisis sebagai konsep pragmatik?
Wacana tersebut di analisis dengan konsep pragmatik, karena konsep pragmatik sangat mudah untuk di analisis,lebih detailnya konsep pragmatik pada teks di atas mengacu apa yang ada di dalam teks tersebut. Perlu kita ketahui lagi tentang Definisi pragmatik yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda. Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Morris (1960) mengatakan bahwa pragmatic merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan. yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur. Menurut Leech (1993:8), Pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar  (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat.
Dari beberapa ahli yang mengemukakan pendapat tentang pengertian pragmatik dapat dengan mudah apabila masyarakat sekitar yang belum mengerti apa itu pragmatik dan memberitahukan inti dari pengertian pragmatik tersebut, pasti sebuah bahasa akan berkembang sesuai dengan aturan ketatabahasaan yang mengandung arti, maksud dan tujuan.                 
b). bagaimana seorang penulis memasukkan wacana tersebut ke dalam analisis maksim kuantitas?
Teks di atas di analisis dengan kajian pragmatik yang masuk ke dalam konsep maksim kuantitas yaitu suatu tuturan untuk memberikan informasi secara singkat, jelas dan tidak berlebihan. Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin (Rahardi , 2008 : 53 ). Pada kalimat sebagian teks ada yang masuk pada konsep praanggapan yakni pada kalimat “soffel dengan bunga yang segar melindungi anda dari gangguan nyamuk sepanjang malam. Soffel dapat digunakan di muka baik untuk dewasa maupun anak-anak”. Kalimat tersebut berisi tentang anggapan bahwa soffel ini mempunyai bau yang cukup harum,karena di buat dari bunga  dan campuarn zat yang bisa melindungi kulit dari gigitan nyamuk. Kalimat berikutnya juga termasuk praanggapan yang yang memberitahukan bahwa soffel ini juga bisa digunakan untuk muka baik untuk dewasa maupun anak-anak. Selanjutnya pada bahasan yang kita teliti yakni maksim kuantitas, kita bisa memasukkan teks pada analisis maksim kuantitas yang berisi “PETUNJUK PENGGUNAAN: sebelum tidur, usapakan secara merata pada bagian tubuh yang perlu di lindungi dari nyamuk juga pada daun telinga”. Teks tersebut berisi tuturan tentang petunjuk menggunakan soffel, yaitu di pakai sebelum tidur, dan cara pemakaian dengan mengusapakan secara merata pada bagian tubuh terutama pada bagian telinga. Dengan petunjuk tersebut masyarakat akan mengetahui apa kegunaan soffel dan bagaimana cara kita untuk memakainya, karena petunjuk penggunaan sudah di lampirkan pada bagian belakang bungkus soffel, selain itu masyarakat juga akan mengikuti tuturan tersebut demi menjaga kulitnya dari gigitan nyamuk. Maksim kuantitas pada teks tersebut merujuk pada cara penggunaan soffel yang di tuturkan pada masyarakat. Untuk teks berikutnya yakni “PETUNJUK KEAMANAN: Jangan kena mata atau selaput lendir lainya dan mulut. Hindari penggunaan pada kulit yang luka. Oleskan secukupnya ke bagian tubuh yang perlu, hindari pemakaian yang berlebihan pada anak usia di bawah 6 tahun. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Hindarkan terkena barang-barang plastik atau permukaan yang di cat atau dipelitur. Bila terjadi iritasi, hentikan pemakaian dan lakukan perawatan menurut gejala yang timbul. Data di atas sudah terkumpul, di ambil dari sebuah bungkus di sebuah toko,kemudian data tersebut di olah sesuai dengan kemampuan kita. Selanjutnya yakni penganalisisan, di dalam analisis tersebut kita dapat mengetahui semua maksud dan penjelasan secara detail dari data tersebut sesuai dengan konsep yang sudah di tentukan”. Kalimat di atas berisi tentang petunjuk keamanan, semua orang apabila memakai bahan atau produk pasti menginginkan keamanan pada produk yang mereka gunakan. Petunjuk keamanan tesebut yang pertama di fokuskan pada mata, jangan sampai soffel tersebut terkena mata ataupun selaput lendir karena akan berbahaya, yang kedua apabila menggunakan soffel jangan di oleskan pada  kulit yang terluka,yang ketiga oleskan soffel pada bagian tertentu, yang keempat gunakan soffel secukupnya karena apabila berlebihan kulit kita akan terasa rusak, dll. Tuturan tersebut bertujuan supaya masyarakat yang memakai soffel mengerti batasan-batasan keamanan dalam menggunakanya. Maka dari itu teks tersebut di atas di namakan dengan maksim kuantitas karena berisi tentang suatu tuturan untuk memberikan informasi secara singkat, jelas dan tidak berlebihan.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas tentang pragmatik, tuturan dan maksim kuantitas dapat kita simpukan bahwa  suatu bahasa tidak lepas dari aturan ketatabahasaan. Setiap kalimat dapat kita cari makna,maksud dan tujuan melalui kajian linguistik. Dan yang mungkin paling mudah ialah ilmu linguistik yang mengkaji  tentang pragmatik daripada  konsep lainya.  Analisis  pragmatik yang hanya memberitahukan  keganaan ucapan yang kita keluarkan. Kemudian di masukkan ke dalam konsep pragmatik yang sudah disesuaikan dari beberapa konsep.
Daftar Acuan
Kushartanti. 2007. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Rustono. 1999. Pokok- Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press
Wijaya, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar