PRAGMATIK
RIF’ATUL HANIFAH
122074007/PA
ABSTRAK
Makalah ini membahas tentang bagian-bagian linguistik yang
mengkaji pragmatik dan unsur-unsurnya. Di dalam ruang lingkup pragmatik
terdapat konsep-konsep pragmatik salah satunya adalah maksim kuantitas. Maksim
kuantitas ini adalah bahan untuk penelitian pada suatu kalimat yang terdapat di
dalam bungkus,yang selanjutnya akan di jadikan sebuah makalah. Setelah
melakukan penelitian ini, harapan saya mampu menguasai objek linguistik minimal
dalam ruang lingkup sehari-hari. Objek linguistik dalam bahasa sangatlah
penting, karena dalam setiap ucapan kita harus memaham makna dan maksud ucapan
tersebut. Agar kita dapat dengan mudah menangkap dan mengerti setiap ucapan
yang di keluarkan oleh orang lain.
Kata kunci : linguistik, pragmatik, dan maksim kuantitas
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin
dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang
silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa.
Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak
hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman
terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi
(Leech, 1993: 1). Seorang filosof dan ahli logika Carnap (1938) juga
menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak. Pragmatik
mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda. Selanjutnya Montague
mengatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai “idexical“ atau “deictic“.
Dalam pengertian ini pragmatik berkaitan dengan teori rujukan atau deiksis,
yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakaiannya.
Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian linguistik, bidang yang merupakan
penelitian bagi para ahli bahasa. Pragmatik yang dimaksud sebagai bahan
pengajaran bahasa atau yang disebut fungsi komunikatif, biasanya disajikan
dalam ajaran bahasa asing. Sebagaimana telah di jelaskan bahwa kajian pragmatik
sangat penting bagi seorang ahli linguis, dan perlu kita tahu apa yang
sebenarnya ada di dalam pragmatik?, bagaimana kita harus menggunakan pragmatik
dengan benar? mengapa kita harus mempelajari kajian pragmatik?. Dengan
munculnya pertanyaan seperti itu kita akan berusaha menjawab bahwa isi dari
kajian pragmatik itu adalah bidang yang mengkaji makna
penutur, bidang yang mengkaji makna
menurut konteksnya, bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan,
mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara, dan
bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi
participant yang terlibat dalam percakapan tertentu. Setelah kita mengetahui
isi dari kajian pragmatik setidaknya kita mampu mengaplikasikan setiap ucapan
kita, mengerti maksud dan tujuan ucapan yang kita ucapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Karena itu pragmatik sangatlah penting dalam mengkaji setiap ucapan yang kita keluarkan.
Seperti dalam pengertian bahasa , hal-hal di luar bahasa
mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa yang
terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya kita perlu mengetahui aiapa aja
yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak social di antara
mereka, atau status relative di antara mereka.Rustono
(1999:55) menyatakan Prinsip percakapan (Convensional principle) adalah prinsip
yang mengatur mekanisme percakapan antar pesertanya agar dapat bercakap-cakap
secara kooperatif dan santun. Dari batasan itu dapat dikemukakan bahwa prinsip
percakapan itu mencakup dua, yaitu prinsip kerjasama (cooperative principle)
dan prinsip kesantunan (politeness principle). Pembicara di dalam percakapan
harus berusaha agar apa yang dikatakannya bisa relevan dengan situasi di dalam
percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat
dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar
percakapan dapat berjalan dengan lancer. Kaidah-kaidah itu di dalam kajian
pragmatic, dikenal dengan prinsip kerja sama.Dalam Kushartanti (2007:106) Grice
(1975) mengungkapkan bahwa di dalam prinsip kerja sama, seorang pembicara harus
mematuhi empat maksim. Maksim adalah prinsip yang harus ditaati oleh peserta
pertuturan dalam berinteraksi, baik secara tekstual maupun interpersonal dalam
upaya melancarkan jalannya proses komunikasi. Keempat maksim percakapan itu
adalah: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara.
Bahan penelitian saya disini mengacu pada maksim kuantitas, dapat kita ketahui , maksim kuantitas merupakan
suatu tuturan untuk memberikan informasi secara singkat, jelas dan tidak
berlebihan. Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat
memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin
(Rahardi , 2008 : 53 ). Dan pendapat lain dari Kushartanti
(2007:106) Grice (1975) mengungkapkan bahwa di dalam prinsip kerja sama yang
berdasarkan pada maksim kuantitas, bahwa dalam percakapan penutur harus
memberikan kontribusi yang secukupnya kepada mitra tuturnya. Dari kedua
pendapat tersebut mempunyai pesamaan yakni suatu kajian yang memberikan
informasi atau kontribusi secara tepat. Jadi bahasa adalah salah satu pelajaran
yang mengajarkan suatu tata bahasa di dalam tindak ucapan yang mempunyai
maksud,arti dan tujuan yang harus di pelajari.
2. Rumusan
Masalah
a) Mengapa
wacana tesebut di analisis sebagai konsep pragmatik?
b) bagaimana
seorang penulis memasukkan wacana tersebut ke dalam analisis maksim kuantitas?
3. Tujuan
Penelitian
a) Mampu
mengetahui dan mengerti tentang arti luas pragmatik.
b) Dapat
membedakan konsep-konsep yang ada dalam pragmatik.
c) Dapat
mengidentifikasi suatu wacana ke dalam konsep analisis pragmatik khususnya
tentang maksim kuantitas.
d) Mengerti
maksud dan tujuan yang ada di dalam maksim kuantuitas.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini di ambil langsung dari sumber tertulis yang
terdapat di sebuah bungkus soffel. Metode penelitian ini dinamakan dengan
metode dokumentasi . Studi dokumenter merupakan merupakan suatu teknik
pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik
dokumen tertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh
kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk
satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh. Jadi studi dokumenter tidak
sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk
kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumuen yang dilaporkan dalam penelitian
adalah hasil analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut.Metode dokumentasi,
yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger,
agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak
tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih
tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup
tetapi benda mati. Dalam menggunakan metode dokumentasi ini peneliti memegang
check-list untuk mencari variabel yang sudah ditentukan. Apabila
terdapat/muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan tanda
check atau tally di tempat yang sesuai. Untuk mencatat hal-hal yang bersifat
bebas atau belum ditentukan dalam daftar variabel peneliti dapat menggunakan
kalimat bebas.
Di sini rancangangan penelitian kami tertuju pada
sebuah kalimat yang berisi:
Soffel dengan bunga yang segar melindungi anda dari
gangguan nyamuk sepanjang malam. Soffel dapat digunakan di muka baik untuk
dewasa maupun anak-anak.
PETUNJUK PENGGUNAAN: sebelum tidur, usapakan secara
merata pada bagian tubuh yang perlu di lindungi dari nyamuk juga pada daun telinga.
PETUNJUK KEAMANAN: Jangan kena mata atau selaput
lendir lainya dan mulut. Hindari penggunaan pada kulit yang luka. Oleskan
secukupnya ke bagian tubuh yang perlu, hindari pemakaian yang berlebihan pada
anak usia di bawah 6 tahun. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Hindarkan terkena
barang-barang plastik atau permukaan yang di cat atau dipelitur. Bila terjadi
iritasi, hentikan pemakaian dan lakukan perawatan menurut gejala yang timbul.
Data di atas sudah terkumpul, di ambil dari sebuah bungkus di sebuah toko,kemudian
data tersebut di olah sesuai dengan kemampuan kita. Selanjutnya yakni
penganalisisan, di dalam analisis tersebut kita dapat mengetahui semua maksud
dan penjelasan secara detail dari data tersebut sesuai dengan konsep yang sudah
di tentukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

a). Mengapa wacana
tesebut di analisis sebagai konsep pragmatik?
Wacana tersebut di analisis dengan konsep pragmatik, karena
konsep pragmatik sangat mudah untuk di analisis,lebih detailnya konsep
pragmatik pada teks di atas mengacu apa yang ada di dalam teks tersebut. Perlu
kita ketahui lagi tentang Definisi
pragmatik yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda.
Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis
yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks
ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari
sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji
makna dalam interaksi (meaning in interaction). Morris (1960) mengatakan bahwa
pragmatic merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara
spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara
tanda bahasa itu diinterpretasikan. yang dimaksud orang menurut definisi
tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur. Menurut Leech
(1993:8), Pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan
situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur
penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan
tempat.
Dari beberapa ahli yang
mengemukakan pendapat tentang pengertian pragmatik dapat dengan mudah apabila masyarakat
sekitar yang belum mengerti apa itu pragmatik dan memberitahukan inti dari
pengertian pragmatik tersebut, pasti sebuah bahasa akan berkembang sesuai
dengan aturan ketatabahasaan yang mengandung arti, maksud dan tujuan.
b).
bagaimana seorang penulis memasukkan wacana tersebut ke dalam analisis maksim
kuantitas?
Teks di atas di analisis dengan kajian pragmatik yang masuk ke
dalam konsep maksim kuantitas yaitu suatu tuturan untuk memberikan informasi
secara singkat, jelas dan tidak berlebihan. Di dalam maksim kuantitas, seorang
penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan
seinformatif mungkin (Rahardi , 2008 : 53 ). Pada kalimat sebagian teks ada
yang masuk pada konsep praanggapan yakni pada kalimat “soffel dengan bunga yang segar melindungi anda dari
gangguan nyamuk sepanjang malam. Soffel dapat digunakan di muka baik untuk
dewasa maupun anak-anak”. Kalimat tersebut berisi tentang anggapan bahwa soffel
ini mempunyai bau yang cukup harum,karena di buat dari bunga dan campuarn zat yang bisa melindungi kulit
dari gigitan nyamuk. Kalimat berikutnya juga termasuk praanggapan yang yang
memberitahukan bahwa soffel ini juga bisa digunakan untuk muka baik untuk
dewasa maupun anak-anak. Selanjutnya pada bahasan yang kita teliti yakni maksim
kuantitas, kita bisa memasukkan teks pada analisis maksim kuantitas yang berisi
“PETUNJUK PENGGUNAAN: sebelum tidur, usapakan secara merata pada bagian tubuh
yang perlu di lindungi dari nyamuk juga pada daun telinga”. Teks tersebut
berisi tuturan tentang petunjuk menggunakan soffel, yaitu di pakai sebelum
tidur, dan cara pemakaian dengan mengusapakan secara merata pada bagian tubuh
terutama pada bagian telinga. Dengan petunjuk tersebut masyarakat akan
mengetahui apa kegunaan soffel dan bagaimana cara kita untuk memakainya, karena
petunjuk penggunaan sudah di lampirkan pada bagian belakang bungkus soffel,
selain itu masyarakat juga akan mengikuti tuturan tersebut demi menjaga
kulitnya dari gigitan nyamuk. Maksim kuantitas pada teks tersebut merujuk pada
cara penggunaan soffel yang di tuturkan pada masyarakat. Untuk teks berikutnya
yakni “PETUNJUK KEAMANAN: Jangan kena mata atau selaput lendir lainya dan
mulut. Hindari penggunaan pada kulit yang luka. Oleskan secukupnya ke bagian
tubuh yang perlu, hindari pemakaian yang berlebihan pada anak usia di bawah 6
tahun. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Hindarkan terkena barang-barang
plastik atau permukaan yang di cat atau dipelitur. Bila terjadi iritasi,
hentikan pemakaian dan lakukan perawatan menurut gejala yang timbul. Data di
atas sudah terkumpul, di ambil dari sebuah bungkus di sebuah toko,kemudian data
tersebut di olah sesuai dengan kemampuan kita. Selanjutnya yakni
penganalisisan, di dalam analisis tersebut kita dapat mengetahui semua maksud
dan penjelasan secara detail dari data tersebut sesuai dengan konsep yang sudah
di tentukan”. Kalimat di atas berisi tentang petunjuk keamanan, semua orang
apabila memakai bahan atau produk pasti menginginkan keamanan pada produk yang
mereka gunakan. Petunjuk keamanan tesebut yang pertama di fokuskan pada mata,
jangan sampai soffel tersebut terkena mata ataupun selaput lendir karena akan
berbahaya, yang kedua apabila menggunakan soffel jangan di oleskan pada kulit yang terluka,yang ketiga oleskan soffel
pada bagian tertentu, yang keempat gunakan soffel secukupnya karena apabila
berlebihan kulit kita akan terasa rusak, dll. Tuturan tersebut bertujuan supaya
masyarakat yang memakai soffel mengerti batasan-batasan keamanan dalam
menggunakanya. Maka dari itu teks tersebut di atas di namakan dengan maksim
kuantitas karena berisi tentang suatu tuturan untuk memberikan informasi
secara singkat, jelas dan tidak berlebihan.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas tentang pragmatik, tuturan dan maksim
kuantitas dapat kita simpukan bahwa
suatu bahasa tidak lepas dari aturan ketatabahasaan. Setiap kalimat dapat
kita cari makna,maksud dan tujuan melalui kajian linguistik. Dan yang mungkin
paling mudah ialah ilmu linguistik yang mengkaji tentang pragmatik daripada konsep lainya. Analisis
pragmatik yang hanya memberitahukan
keganaan ucapan yang kita keluarkan. Kemudian di masukkan ke dalam
konsep pragmatik yang sudah disesuaikan dari beberapa konsep.
Daftar Acuan
Kushartanti. 2007. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik.
Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Rustono. 1999. Pokok- Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press
Wijaya, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi
PT Gramedia Pustaka Utama
Rustono. 1999. Pokok- Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press
Wijaya, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar