..

love

Kamis, 30 Mei 2013

Sebuah Harapan


Suara tangisan bayi telah membangunkan tidur lelapku,entah mengapa semalam aku tak kunjung memejamkan mata. Tetesan air mata yang setia menemani kesendirianku semalam penuh, dan kini mataku seakan-akan enggan tuk terbuka akibat linangan air mata. Ku paksakan diri untuk bangkit dan beranjak dari tempat tidurku. Maya begitulah ibu,ayah dan semua orang memanggilku.
            Ketika ku ingin membuka pintu kamar,tiba-tiba bayangan semalam memenuhi fikiran kosongku, aku teringat sosok lelaki yang aku cintai dan keluargaku. Entah apa yang sebenarnya keluargaku inginkan. Sempat terbersit pertanyaan-pertanyaan konyol dalam otaku”apa salah bila aku mencintai orang yang aku mencintaiku? Halalkah bila aku pergi denganya tanpa restu ke-2 orang tuaku? Pertanyaan yang semakin membuatku larut dalam kesedihan.
            Seorang cowok yang telah berhasil mencuri hatiku. Dia yang sedang mengais ilmu di kota malang. Hidung mancung,mungkin hanya itu kelebihanya. Tapi entah mengapa aku begitu mengaguminya sejak pertama mata memandang wajah yang menurutku begitu unik. Cowok jelek yang senantiasa menghiasi mimpi dalam hidupku. Mengisi kekosongan jiwa yang yang tlah lama terbalut sepi. Dia yang telah membuatku berani melawan kakakku sendiri. Aku dan dia telah menjalin hubungan lebih dari 6 bulan. Semua berjalan baik-baik saja. Tapi kakakku selalu menentang hubungan ini,dengan berbagi macam alasan yang sampai sekarang tak dapat aku mengerti. Dan itu semua membuatku harus mengakhiri hubngan yang tak pernah ingin ku akhiri.
            Ku temui ibu yang sedang memasak di dapur,ku pandang lekat-lekat wajah yang sudah mulai menggambarkan usianya yang sudah rentan,garis keriput yang yang memenuhi wajah bersahabat. Ibu yang selalu menemaniku dari belia hingga diriku beranjak dewasa.
“bu..??panggilku dengan suara pelan
“baru bangun nak? Ibu belum selesai memasak,segeralah mandi dan kita akan sarapan bersama”
“Maya berangkat ke Surabaya hari ini”kataku seolah tak menghiraukan jawabannya dan bergegas pergi ke mandi.

 



            Aku bersiap untuk bergegas ke Surabaya,berharap bisa sedikit melupakan kejadian semalam. Ibu menemaniku saat  menyetop bus di depan rumah. Aku duduk tepat di sebelah Ibu dan berusaha untuk menceritakan semua kejadian yang telah terjadi semalem dan kini telah menghantuiku.
“bu..,sebenarnya edo itu adalah pacarku,tapi sekarang Maya dan Edo sudah tak ada hubungan lagi”tiba-tiba linangan air mata kembali membasahi pipiku. Aku tertunduk. Aku tau kalau Ibuku kebingungan dengan sikapku.
“sejak kapan pacaran??dan mengapa sekarang putus??”jawab Ibu dengan berhati-hati karna takut menyakiti hatiku”
“Edo bilang,kalau aku tidak di restui oleh keluargaku,maka Edo tidak mau melanjutkan hubungan ini Bu”
“Ibu tidak melarangmu nduk, Ibu hanya takut bila semua itu hanya akan mengganggu sekolahmu. Dan sekarang lihatlah pacaran bisa jadi putus dan kamu jadi menangis seperti ini”
            Aku hanya menggangguk mendengar jawaban Ibuku,ku beranjak dari tempat duduk dan melihat ada bus yang yang akan lewat. Ku cium tangan Ibu. Segera kunaiki bus yang telah berhenti tepat di depan rumahku.
“Bu..tolong berikan kado yang ada di meja ruang TV kepada Edo,nanti dia akan datang kerumah.”
“baik nduk,hati-hati di jalan dan jangan terlalu memikirkan tentang Edo,kalaupun dia memang jodohmu dia pasti akan kembali padamu nduk”
            Ku biarkan tubuhku mengikuti garakan bus yang di kendarai seorang sopir setengah baya. Aku tidak turun di terminal arjosari aku ingin turun di terminal Blitar terlebih dahulu. Tak berapa lama bus berwarna putih biru itu membawaku sampai di terminal Blitar,dengan segera aku turun dari bus antar kota tersebut dengan mimik wajah yang tak sedap untuk di pandang. Ponselku berbunyi ku baca tulisan dalam layar kaca ponsel kesayanganku.
1 pesan diterima
Dari Ray chayank
“yank...,please jangan berangkat dulu...,
aku ingin bertemu denganmu walaupun untuk yang terakhir..
Tunggu aq 5 menit,aq baru saja dari  rumahmu”
            Mataku terpejam dan berusaha menahan linang air mata yang telah siap membanjiri pipiku.4 menit kemudian ku lihat sosok yang telah sangat aku kenal tapi,aku tak sanggup untuk melihatnya. Dia terus berjalan mendekatiku dan berdiri tepat di depanku.
“aku minta maaf”ucapnya lirih
ku tatap wajahnya. Untuk yang kesekian kalinya kembali aku menitikkan air mata. Dia pun duduk disebelahku dan mengatakan apa yang telah dia bicarakan selama dia bertemu Ibuku. Aku tahu Ibu memang tidak melarangku,tapi kakaku yang melarangku. Berkali-kali aku mengatakan itu kepadanya tapi dia tetap tidak peduli.
“please yank..jangan pernah tinggalkan aku,aku yakin kamu juga belum siap untuk kehilangan aku,benar kan??Cepatlah berangkat dari pada kamu nanti kemalaman sampai di Surabaya”sambil membelai dan menatapku dalam-dalam.
 Aku tahu betapa Edo begitu menyayangiku dia selalu menuruti apapaun kataku walaupun itu merugikan dirinya sendiri,itu sebabnya aku tak akan pernah merelakan dia pergi meninggalkan aku sendiri dalam mengarungi kehidupan fatamorgana ini.
                                                                                                                                                                                                             
            Waktu yang ku tunggu-tunggu kini telah datang,ujian terakhir telah berlalu dan kini saatnya aku merefreshkan fikiran yang sudah jenuh dengan tugas selama 1 semester. Aku akan menuju kota kelahiranku bersama orang yang aku cintai. Tak tau apa penyebabnya sehingga aku begitu antusias untuk pulang. Aku tak kunjung memejamkan mata yang telah lelah ini.almarm telah aku pasang. Tepat pukul 3.30 aku terbangun lalu bergegas mandi. Walaupun dingin semakin mencekam karna waktu masih menunjukkan pukul 3.30 itu tak menyurutkan semangatku dan ke-2 temanku,anik dan iponk begitulah semua anak kost memanggil mereka berdua.
            Walau harus berjalan kaki lebih dari 100 meter untuk sampai di station itu tak membuat kami menyerah,semangat yang semakin menggebu untuk bertemu keluarga tercinta di rumah membuat kami merasa berjalan kaki itu adalah suatu olahraga yang sehat. Adzan shubuh telah berkumandang,membuatku harus dengan segera mengadap        kepada-NYA dalam sujud di atas selembar sajadah masjid yang mulai kusam.
                        STASION KOTA BARU ku baca tulisan itu. Aku harus turun dan  bertemu denganya. Kulangkahkan kakiku dengan begitu cepat tanpa ada komando dari siapapun. Tepat di depan pintu gerbang ku pijakkan kaki yang mulai letih, ku mencoba mencari seseorang yang sudah berjanji akan menjemputku.
“sudah lama? Kata lelaki itu dengan wajah yang kusam.
“lumayan,ayo berangkat”jawabku sinis dengan memandang dia lekat-lekat
            Ada yang aneh. Tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam fikiran Edo,dia  terdiam begitu saja,tak seceria biasanya ketika bertemu denganku. Kunaiki motor hitam yang ber plat AG , aku merasa ada yang  tidak beres dengan sikapnya.”apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dia sembunyikan dariku?bemacam-macam pertanyaan muncul dalam benakku”.
“kamu kenapa?”tanyaku sambil berbisik.
“tidak kenapa-kenapa,pesek”jawabnya singkat.
“huh..,selalu manggil aku pesek,padahal hidungku sedikit mancung.”gerutuku sendiri tanpa peduli dia mendengarkan ataupun tidak.
            Alon-alon kota malang entah mengapa aku selalu dibawa ke tempat ini,padahal  tak ada yang isimewa dari tempat ini. Dia tetap diam seribu bahasa. Aku merasakan suatu keganjalan yang ada padanya, aku dan Edo menelusuri jalan di tengah alon-alon dan berhenti di bawah sebuah pohon.
“bicaralah!!! Jangan seperti orang bisu seperti itu” kataku dengan menatap wajahnya yang sedang menarawang jauh entah kemana dia membawa fikiran.
Tiba-tiba dia memutar badanya ke arahku, menatapku dengan tatapan tajam. Membuatku merasa semakin takut.
“Tadi aku kecelakaan,lihatlah!!! Dia melihatkan kakinya yang bengkak,jaketnya yang rusak dan seluruh badanya yang memar.
Seakan dunia berhenti berputar,semua aktivitas berhenti secara spontan. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan,aku masih terpaku atas peristiwa yang dia alami. Dan ku berharap semua cerita itu hanya sebuah halusinasi. Tapi tidak ini adalah kenyataan. Lalu kenapa dia bisa berada di sampingku? Kenapa dia tetap menjemputku? Kenapa dia tidak pergi berobat? Kenapa dia bisa sebodoh itu? Semua pertanyaan kembali meracuni fikiranku. Kini giliranku yang membawa fikiran terbang,menerawang entah sejauh mana.
“pesek,kamu baik-baik saja kan? Katanya membuyarkan lamunanku
“ bodoh, kenapa kamu bertanya kepadaku? Tanyakan itu padamu.kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu tadi kecelakaan? Kenapa tetap menjemput aku?”aku tertunduk,tak sangup aku  menatapnya.
“hahahaa...kamu lucu sayang. Aku sudah berjanji akan menjemputmu. Walaupun hari ini aku tidak bisa berjalanpun aku akan tetap menjemputmu,bagaimanapun caranya aku akan tetap menjemputmu. Karna aku terlanjur berjanji padamu.
            Tak tahu apa yang sedang merasuki dirinya kenapa dia bisa sebodoh itu. Aku menarik tanganya mengajak dia untuk berobat,tapi dia hanya tersenyum seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Ku coba menerka-nerka apa yang sebenarnya dia inginkan. Aku hanya bisa mengobati luka-luka pada badanya dengan anti septic yang telah aku beli di sebuah warung pinggiran. Betapa terkejutnya aku mendengar alasan konyol darinya kenapa dia sampai kecelakaan seperti ini.
“ kamu tahu,kenapa aku tadi kecelakaan?”
“apa?”jawabku singkat
“karena aku tidak mau kamu menungguku lama.saat kamu sms kalau masih sampai di station Blimbing aku segera meluncur ke station Kota Baru,tetapi saat dijalan aku menabrak trotoar karena aku terlalu ngebut saat mengendarai motor sehingga aku tidak bisa mengerem motorku. Maaf ya sayang?”
Kenapa dia selalu minta maaf untuk sebuah kejadian yang bukan salahnya. Aku tak mau berlama-lama di alon-alon. Ku ajak dia untuk segera pulang ke Blitar. Walaupun saat di jalan dia merasa kesakitan. Edo tetap keras kepala untuk mengantarku pulang.
                          
Tubuhku gemetar.keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Aku takut keluargaku akan memarahi aku dan Edo. Tidak,aku harus tetap bisa meyakinkan keluargaku atas hubungan ini. ketika keluargaku melihat kondisi Edo yang terluka,mereka shock. Kenapa dia tetap mengantarku sampai dirumah? Dengan segera Edo di bawa ke rumah sakit terdekat oleh kakakku. Di sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat medis yang tak ku mengerti untuk apa semua itu. Aku,ibu,ayah dan kini bersama keluarga Edo dengan hati yang tak karuan menunggu di luar ruangan. Ku tatap wajah ibunya yang begitu cemas. Ku dekati,ku dekap wanita setengah baya itu.
“tenanglah nduk,banyak-banyak berdo’a.semoga semua akan baik-baik saja. Ini adalah cobaan dari yang maha kuasa untuk kita semua.”
Seorang lelaki berbaju putih keluar dari ruangan. Dia mengatakan telah terjadi cedera pada lutut Edo dan harus mendapat perawan khusus.
“Bu..maafkan Maya”kembali aku memeluknya
“ Tak ada yang harus di sesali nduk. Pecayalah Edo akan baik-baik saja.”
Wanita setengah baya itu adalah wanita yang paling kuat yang pernah ku temui. Beliau telah di tinggal pergi oleh suaminya dan harus menghidupi anak-anaknya seorang diri. Ibu yang hebat, selalu aku mengatakan itu pada anaknya. Wanita itu meninggalkanku sendiri,dia segera menemui anaknya.
Ibu,Ayah dan kakak mendekatiku yang sedang duduk termenung. Kini mereka tidak akan memarahiku apabila aku melanjutkan hubungan ini. Mereka mengerti kalau cinta itu tak dapat di cegah. Kini bukan zaman siti nurbaya” kata ayah,berusaha menenangkanku. Dan berusaha meyakinkan kakakku.
“ Satu pesan dari ibu, jangan sampai hubungan kalian mengganggu sekolah kalian. Sekarang kami percaya edo adalah anak yang baik,tadi Ibu sudah bicara dengan Ibunya.” Ibuku mulai berbicara.
Akhirnya kini semua telah meyetujui hubunganku dengannya. Walaupun harus melalui berbagai rintangan. Dan inilah cinta yang kami tunggu selama ini. Ku berjalan menuju sebuah kamar tempat Edo dirawat.
“maafkan aku sayang?” kataku sedikit tebata-bata.
“iya. Kamu tau kenapa aku aku rela mengantarkanmu sampai ke rumah dengan kondisi seperti ini?
Aku hanya bisa menggelengkan kepala tanpa dapat berkata sepatah katapun.
“Karna aku mencintaimu, aku tahu kalau kamu belum pernah pulang sendirian. Makanya aku tak tega meningglkanmu sayang”
Entah dari mana dia mendapatkan alasan sekonyol itu. Aku bukan anak kecil yang harus di antar kemana saja aku ingin pergi. Aku tak peduli berapa ribu linangan air mata yang telah kubiarkan mengalir begitu saja. Yang terpenting sekarang aku bisa bersama denganya dengan restu dari keluargaku dan keluarganya. Bersama untuk hari ini, besok dan selamanya.

Oleh: Rimayatul Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar