
Suara tangisan bayi telah
membangunkan tidur lelapku,entah mengapa semalam aku tak kunjung memejamkan
mata. Tetesan air mata yang setia menemani kesendirianku semalam penuh, dan kini
mataku seakan-akan enggan tuk terbuka akibat linangan air mata. Ku paksakan
diri untuk bangkit dan beranjak dari tempat tidurku. Maya begitulah ibu,ayah
dan semua orang memanggilku.
Ketika
ku ingin membuka pintu kamar,tiba-tiba bayangan semalam memenuhi fikiran
kosongku, aku teringat sosok lelaki yang aku cintai dan keluargaku. Entah apa
yang sebenarnya keluargaku inginkan. Sempat terbersit pertanyaan-pertanyaan
konyol dalam otaku”apa salah bila aku mencintai orang yang aku mencintaiku?
Halalkah bila aku pergi denganya tanpa restu ke-2 orang tuaku? Pertanyaan yang
semakin membuatku larut dalam kesedihan.
Seorang
cowok yang telah berhasil mencuri hatiku. Dia yang sedang mengais ilmu di kota
malang. Hidung mancung,mungkin hanya itu kelebihanya. Tapi entah mengapa aku
begitu mengaguminya sejak pertama mata memandang wajah yang menurutku begitu
unik. Cowok jelek yang senantiasa menghiasi mimpi dalam hidupku. Mengisi
kekosongan jiwa yang yang tlah lama terbalut sepi. Dia yang telah membuatku
berani melawan kakakku sendiri. Aku dan dia telah menjalin hubungan lebih dari
6 bulan. Semua berjalan baik-baik saja. Tapi kakakku selalu menentang hubungan
ini,dengan berbagi macam alasan yang sampai sekarang tak dapat aku mengerti.
Dan itu semua membuatku harus mengakhiri hubngan yang tak pernah ingin ku
akhiri.
Ku
temui ibu yang sedang memasak di dapur,ku pandang lekat-lekat wajah yang sudah
mulai menggambarkan usianya yang sudah rentan,garis keriput yang yang memenuhi
wajah bersahabat. Ibu yang selalu menemaniku dari belia hingga diriku beranjak
dewasa.
“bu..??panggilku dengan suara
pelan
“baru bangun nak? Ibu belum
selesai memasak,segeralah mandi dan kita akan sarapan bersama”
“Maya berangkat ke Surabaya hari
ini”kataku seolah tak menghiraukan jawabannya dan bergegas pergi ke mandi.
Aku
bersiap untuk bergegas ke Surabaya,berharap bisa sedikit melupakan kejadian
semalam. Ibu menemaniku saat menyetop
bus di depan rumah. Aku duduk tepat di sebelah Ibu dan berusaha untuk
menceritakan semua kejadian yang telah terjadi semalem dan kini telah menghantuiku.
“bu..,sebenarnya edo itu adalah
pacarku,tapi sekarang Maya dan Edo sudah tak ada hubungan lagi”tiba-tiba
linangan air mata kembali membasahi pipiku. Aku tertunduk. Aku tau kalau Ibuku
kebingungan dengan sikapku.
“sejak kapan pacaran??dan mengapa
sekarang putus??”jawab Ibu dengan berhati-hati karna takut menyakiti hatiku”
“Edo bilang,kalau aku tidak di
restui oleh keluargaku,maka Edo tidak mau melanjutkan hubungan ini Bu”
“Ibu tidak melarangmu nduk, Ibu
hanya takut bila semua itu hanya akan mengganggu sekolahmu. Dan sekarang
lihatlah pacaran bisa jadi putus dan kamu jadi menangis seperti ini”
Aku
hanya menggangguk mendengar jawaban Ibuku,ku beranjak dari tempat duduk dan
melihat ada bus yang yang akan lewat. Ku cium tangan Ibu. Segera kunaiki bus
yang telah berhenti tepat di depan rumahku.
“Bu..tolong berikan kado yang ada
di meja ruang TV kepada Edo,nanti dia akan datang kerumah.”
“baik nduk,hati-hati di jalan dan
jangan terlalu memikirkan tentang Edo,kalaupun dia memang jodohmu dia pasti
akan kembali padamu nduk”
Ku
biarkan tubuhku mengikuti garakan bus yang di kendarai seorang sopir setengah
baya. Aku tidak turun di terminal arjosari aku ingin turun di terminal Blitar
terlebih dahulu. Tak berapa lama bus berwarna putih biru itu membawaku sampai
di terminal Blitar,dengan segera aku turun dari bus antar kota tersebut dengan
mimik wajah yang tak sedap untuk di pandang. Ponselku berbunyi ku baca tulisan
dalam layar kaca ponsel kesayanganku.
1 pesan diterima
Dari Ray chayank
“yank...,please jangan berangkat
dulu...,
aku ingin bertemu denganmu
walaupun untuk yang terakhir..
Tunggu aq 5 menit,aq baru saja
dari rumahmu”
Mataku
terpejam dan berusaha menahan linang air mata yang telah siap membanjiri
pipiku.4 menit kemudian ku lihat sosok yang telah sangat aku kenal tapi,aku tak
sanggup untuk melihatnya. Dia terus berjalan mendekatiku dan berdiri tepat di
depanku.
“aku minta maaf”ucapnya lirih
ku tatap wajahnya. Untuk yang
kesekian kalinya kembali aku menitikkan air mata. Dia pun duduk disebelahku dan
mengatakan apa yang telah dia bicarakan selama dia bertemu Ibuku. Aku tahu Ibu
memang tidak melarangku,tapi kakaku yang melarangku. Berkali-kali aku
mengatakan itu kepadanya tapi dia tetap tidak peduli.
“please yank..jangan pernah
tinggalkan aku,aku yakin kamu juga belum siap untuk kehilangan aku,benar
kan??Cepatlah berangkat dari pada kamu nanti kemalaman sampai di Surabaya”sambil
membelai dan menatapku dalam-dalam.
Aku tahu betapa Edo begitu menyayangiku dia
selalu menuruti apapaun kataku walaupun itu merugikan dirinya sendiri,itu
sebabnya aku tak akan pernah merelakan dia pergi meninggalkan aku sendiri dalam
mengarungi kehidupan fatamorgana ini.
Waktu
yang ku tunggu-tunggu kini telah datang,ujian terakhir telah berlalu dan kini
saatnya aku merefreshkan fikiran yang sudah jenuh dengan tugas selama 1 semester.
Aku akan menuju kota kelahiranku bersama orang yang aku cintai. Tak tau apa
penyebabnya sehingga aku begitu antusias untuk pulang. Aku tak kunjung
memejamkan mata yang telah lelah ini.almarm telah aku pasang. Tepat pukul 3.30
aku terbangun lalu bergegas mandi. Walaupun dingin semakin mencekam karna waktu
masih menunjukkan pukul 3.30 itu tak menyurutkan semangatku dan ke-2
temanku,anik dan iponk begitulah semua anak kost memanggil mereka berdua.
Walau
harus berjalan kaki lebih dari 100 meter untuk sampai di station itu tak
membuat kami menyerah,semangat yang semakin menggebu untuk bertemu keluarga
tercinta di rumah membuat kami merasa berjalan kaki itu adalah suatu olahraga
yang sehat. Adzan shubuh telah berkumandang,membuatku harus dengan segera mengadap kepada-NYA dalam sujud di atas selembar
sajadah masjid yang mulai kusam.
STASION KOTA BARU ku baca tulisan
itu. Aku harus turun dan bertemu
denganya. Kulangkahkan kakiku dengan begitu cepat tanpa ada komando dari
siapapun. Tepat di depan pintu gerbang ku pijakkan kaki yang mulai letih, ku
mencoba mencari seseorang yang sudah berjanji akan menjemputku.
“sudah lama? Kata lelaki itu dengan
wajah yang kusam.
“lumayan,ayo berangkat”jawabku
sinis dengan memandang dia lekat-lekat
Ada
yang aneh. Tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam fikiran Edo,dia terdiam begitu saja,tak seceria biasanya
ketika bertemu denganku. Kunaiki motor hitam yang ber plat AG , aku merasa ada
yang tidak beres dengan sikapnya.”apa
yang sebenarnya terjadi? Apa yang dia sembunyikan dariku?bemacam-macam
pertanyaan muncul dalam benakku”.
“kamu kenapa?”tanyaku sambil
berbisik.
“tidak kenapa-kenapa,pesek”jawabnya
singkat.
“huh..,selalu manggil aku
pesek,padahal hidungku sedikit mancung.”gerutuku sendiri tanpa peduli dia mendengarkan
ataupun tidak.
Alon-alon
kota malang entah mengapa aku selalu dibawa ke tempat ini,padahal tak ada yang isimewa dari tempat ini. Dia
tetap diam seribu bahasa. Aku merasakan suatu keganjalan yang ada padanya, aku
dan Edo menelusuri jalan di tengah alon-alon dan berhenti di bawah sebuah
pohon.
“bicaralah!!! Jangan seperti
orang bisu seperti itu” kataku dengan menatap wajahnya yang sedang menarawang
jauh entah kemana dia membawa fikiran.
Tiba-tiba dia memutar badanya ke
arahku, menatapku dengan tatapan tajam. Membuatku merasa semakin takut.
“Tadi aku kecelakaan,lihatlah!!!
Dia melihatkan kakinya yang bengkak,jaketnya yang rusak dan seluruh badanya
yang memar.
Seakan dunia berhenti
berputar,semua aktivitas berhenti secara spontan. Aku tak tahu apa yang harus
aku katakan,aku masih terpaku atas peristiwa yang dia alami. Dan ku berharap
semua cerita itu hanya sebuah halusinasi. Tapi tidak ini adalah kenyataan. Lalu
kenapa dia bisa berada di sampingku? Kenapa dia tetap menjemputku? Kenapa dia
tidak pergi berobat? Kenapa dia bisa sebodoh itu? Semua pertanyaan kembali
meracuni fikiranku. Kini giliranku yang membawa fikiran terbang,menerawang
entah sejauh mana.
“pesek,kamu baik-baik saja kan?
Katanya membuyarkan lamunanku
“ bodoh, kenapa kamu bertanya
kepadaku? Tanyakan itu padamu.kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu
tadi kecelakaan? Kenapa tetap menjemput aku?”aku tertunduk,tak sangup aku menatapnya.
“hahahaa...kamu lucu sayang. Aku
sudah berjanji akan menjemputmu. Walaupun hari ini aku tidak bisa berjalanpun
aku akan tetap menjemputmu,bagaimanapun caranya aku akan tetap menjemputmu.
Karna aku terlanjur berjanji padamu.
Tak
tahu apa yang sedang merasuki dirinya kenapa dia bisa sebodoh itu. Aku menarik
tanganya mengajak dia untuk berobat,tapi dia hanya tersenyum seolah-olah tak
pernah terjadi apa-apa. Ku coba menerka-nerka apa yang sebenarnya dia inginkan.
Aku hanya bisa mengobati luka-luka pada badanya dengan anti septic yang telah
aku beli di sebuah warung pinggiran. Betapa terkejutnya aku mendengar alasan
konyol darinya kenapa dia sampai kecelakaan seperti ini.
“ kamu tahu,kenapa aku tadi
kecelakaan?”
“apa?”jawabku singkat
“karena aku tidak mau kamu
menungguku lama.saat kamu sms kalau masih sampai di station Blimbing aku segera
meluncur ke station Kota Baru,tetapi saat dijalan aku menabrak trotoar karena
aku terlalu ngebut saat mengendarai motor sehingga aku tidak bisa mengerem
motorku. Maaf ya sayang?”
Kenapa dia selalu minta maaf
untuk sebuah kejadian yang bukan salahnya. Aku tak mau berlama-lama di
alon-alon. Ku ajak dia untuk segera pulang ke Blitar. Walaupun saat di jalan
dia merasa kesakitan. Edo tetap keras kepala untuk mengantarku pulang.
Tubuhku gemetar.keringat dingin
mulai keluar dari tubuhku. Aku takut keluargaku akan memarahi aku dan Edo.
Tidak,aku harus tetap bisa meyakinkan keluargaku atas hubungan ini. ketika
keluargaku melihat kondisi Edo yang terluka,mereka shock. Kenapa dia tetap
mengantarku sampai dirumah? Dengan segera Edo di bawa ke rumah sakit terdekat
oleh kakakku. Di sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat medis yang tak ku
mengerti untuk apa semua itu. Aku,ibu,ayah dan kini bersama keluarga Edo dengan
hati yang tak karuan menunggu di luar ruangan. Ku tatap wajah ibunya yang
begitu cemas. Ku dekati,ku dekap wanita setengah baya itu.
“tenanglah nduk,banyak-banyak
berdo’a.semoga semua akan baik-baik saja. Ini adalah cobaan dari yang maha
kuasa untuk kita semua.”
Seorang lelaki berbaju putih
keluar dari ruangan. Dia mengatakan telah terjadi cedera pada lutut Edo dan
harus mendapat perawan khusus.
“Bu..maafkan Maya”kembali aku
memeluknya
“ Tak ada yang harus di sesali
nduk. Pecayalah Edo akan baik-baik saja.”
Wanita setengah baya itu adalah
wanita yang paling kuat yang pernah ku temui. Beliau telah di tinggal pergi
oleh suaminya dan harus menghidupi anak-anaknya seorang diri. Ibu yang hebat,
selalu aku mengatakan itu pada anaknya. Wanita itu meninggalkanku sendiri,dia
segera menemui anaknya.
Ibu,Ayah dan kakak mendekatiku
yang sedang duduk termenung. Kini mereka tidak akan memarahiku apabila aku
melanjutkan hubungan ini. Mereka mengerti kalau cinta itu tak dapat di cegah.
Kini bukan zaman siti nurbaya” kata ayah,berusaha menenangkanku. Dan berusaha
meyakinkan kakakku.
“ Satu pesan dari ibu, jangan
sampai hubungan kalian mengganggu sekolah kalian. Sekarang kami percaya edo
adalah anak yang baik,tadi Ibu sudah bicara dengan Ibunya.” Ibuku mulai
berbicara.
Akhirnya kini semua telah
meyetujui hubunganku dengannya. Walaupun harus melalui berbagai rintangan. Dan
inilah cinta yang kami tunggu selama ini. Ku berjalan menuju sebuah kamar
tempat Edo dirawat.
“maafkan aku sayang?” kataku
sedikit tebata-bata.
“iya. Kamu tau kenapa aku aku
rela mengantarkanmu sampai ke rumah dengan kondisi seperti ini?
Aku hanya bisa menggelengkan
kepala tanpa dapat berkata sepatah katapun.
“Karna aku mencintaimu, aku tahu
kalau kamu belum pernah pulang sendirian. Makanya aku tak tega meningglkanmu
sayang”
Entah dari mana dia mendapatkan
alasan sekonyol itu. Aku bukan anak kecil yang harus di antar kemana saja aku
ingin pergi. Aku tak peduli berapa ribu linangan air mata yang telah kubiarkan
mengalir begitu saja. Yang terpenting sekarang aku bisa bersama denganya dengan
restu dari keluargaku dan keluarganya. Bersama untuk hari ini, besok dan selamanya.
Oleh:
Rimayatul Hidayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar