Kita
berlabuh pada dermaga sunyi
Menjejakkan
warna pada bayang-bayang rawa
mendekap,
menghela, melukis nafas
yang
menggantung pada tiap helai kabar debu
Namun,
sejak waktu meretak
Pagi
menjadi makam
Membunuh
detak musim
Di
tiap tangkai mawar
Mawar:
ku mohon..
Alirkan
embun pada tungkuku
Agar
baranya mencair seputih angin
Dan
goresan hujan abadi
Dalam
surat hening
“kabar
debu” dikutip dari antologi puisi
KOSTELA
“surat
hening” dikutip dari antologi puisi Herry Lamongan
Tinta
Tinta...
Menyelipkan kisah jingga dan merah
Ia terpaku
Melukis garis hitam dalam air mata
Bercucurkan rindu
Tinta merajut dedaunan kering
Membangun tarian kata
Memeluk emosi cakrawala
Tatapan matamu bergeming
Berjejer dengan sudut mengucing
Oh,sungguh naas!
Aku telah menumpahkan kata
Tinta menerjang waktu dan mengusir
Membuatnya tua
Berkabut remang dengan titik-titik kelam
Sungguh tolonya diriku
Tak mampu menyeret kebencian
Meski ia bergelantungan dengan tertawa
Kau punah
Menganut roda penuh kecewa
Menyisakan mutiara berdarah
Mencekik pembuluh
aku akan mati
Aku akan mati?
Ah, tidak!
Walau nyawa di ufuk rindu
Aku diam
....
Menghirup aroma sepi
Aku tak akan mati
Tinta akan abadi
Lamongan,09 Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar