..

love

Kamis, 30 Mei 2013

Lembah Tak Bernama



Biar deru jadi asap yang mengepul pada tiap jejak “kita” antara aku dan kamu Ray, lalu embun tumbuh menjadi mimpi-mimpi yang berputar seperti capung di langit yang ungu, kita ini lembah Ray, lembah yang masih belum punya nama, hingga langit akan menjadi lebih tinggi, tepatnya sepertiga pada anganku yang telah ku jejalkan di pohon-pohon mimpi yang beberapa waktu lalu kita tanam di atas bukit, namun nyatanya namamu masih bisu meski aku mendayung sekuat badai hanya untuk sekedar mendengar melodynya.
Di taman ini, ya, masih di taman yang sama seperti dulu, batu-batu yang masih melumut dan rerumputan yang mulai meninggi serta guguran daun mangga yang semerbak ke arah senja yang selalu menebar wangi tubuhmu yang sewaktu-waktu melekat pada baju dan celana yang kau kenakan, biar saja rindu ini berduyun-duyun terbang di setiap fajar, seperti sekarang, dan malam yang tenang akan selalu riuh pada langitnya, agar dadaku menjadi sedikit lebih lapang sebab tak lagi menemukan suaramu di tempat ini, padahal waktu memberiku sebuah janji untuk mendengar lagu yang sama.
Biar saja aku menabur kisah pada batu-batu yang ranum, ingatkah ketika kita seperti mawar yang bermandikan embun di ujung hari yang lekat dengan gerimis? Kita bagaikan layang-layang yang terbang pada tiap helaan angin, seperti burung-burung yang menyanyikan melody daun disetiap ia menyinggahkan langkahnya yang mungil, lalu kita berdiam diri dalam satu masa, dimana cerita tak bisa diungkapkan dan dinyanyikan pada tapak-tapak tanah, aku yang mati oleh waktu.
Waktu yang amat menyayatku, saat air mata bagaikan sedarah bersama jeritan-jeritan hati yang tak mampu ku suarakan, ya, saat itu, ketika aku menghirup siang dengan berbagai aroma obat dan jarum suntik yang membuatku mabuk oleh berbagai peristiwa, itukah terakhir kau menemuiku? Hingga beberapa musim menceritakan perjalanan hidup, kau masih tak menampakkan senyummu dari tempatmu bersemayam, hanya ketika orang yang sangat aku cintai terbaring tak berdaya, dengan peralatan medis yang melilit tubuhnya, kau duduk terpaku di sudut kamar yang dingin dan mengembun, entah apa yang kau pikirkan Ray, apa kau turut berduka dengan segala yang menimpaku, sebab kejadian itu membuatku seperti jalan setapak yang tak menemukan pejalan kaki untuk mengharumkan jalurku, bahkan saat itu aku tak mampu membedakan rasa sakit yang menikam berjuta kali setiap aku membayangkan jika ia akan segera berpindah kehidupan menuju surga, sedangkan ia meninggalkan aku yang masih sangat rapuh untuk menjejakkan kisah-kisah yang masih belum mempunyai alur.
Saat itu aku sempat berpikir akan menyerahkan segala yang kumiliki demi dia, termasuk jika harus kehilanganmu untuk menebus nyawanya, mungkin aku sedikit gila Ray sebab telah mengorbankan dirimu untuk orang lain, namun begitulah kenyataannya, aku tak mampu mengganti jingga di rona fajar dengan pelangi sepertimu, sebab ia mampu menghadirkan malam dan mengembalikan pagi sesuai waktunya dalam tiap lembar hidupku yang selalu ku coret-coret dengan tinta berwarna.
“kita akan melaluinya bersama, aku akan selalu disini untukmu, bersabarlah semoga apapun yang terjadi itulah yang terbaik” ingatkah ketika kau mengatakan hal itu padaku? pada sore yang mulai padat dengan sejuta tanya di tiap helai rambutku yang membuatku merasa semakin sesak “aku tak ingin dia pergi dari hidupku Ray, sekarang, esok ataupun esoknya” lalu kau mendekapku dan aroma nafasmu yang mengalir di ujung-ujung keningku mulai menghangatkan tubuhku, disana aku menemukan danau yang mulai kehilangan kabutnya, dan sebuah sampan kan menjadi pelataran untuk menyeberang ke lembah yang lebih hijau.
Disela-sela detik aku membeku dalam diam, memikirkan berbagai kemungkinanyang bisa terjadi, dan kemungkinan terburuk yakni aku tak lagi bisa menatap matanya di setiap hari-hariku pada pagi,siang,sore dan malam-malam sebelum segerombolan jiwa-jiwa yang dikirim oleh Tuhan mengajaknya berkeliaran ke dimensi yang berbeda dengan tubuhnya yang kini terbaring tak berdaya, ia tak lagi mengenalku, dan tak lagi mendengar air mataku yang berteriak-teriak memanggil jiwanya, sedangkan genggamanmu kini tak lagi mengandung zat-zat yang dapat menenangkanku seperti genggamanmu sebelumnya, langit seperti telah meretak dan sebentar lagi akan roboh dalam atap-atap fikirku yang masih terbang melenggang yang mungkin akan jatuh jika ia tak lagi membuka matanya.
Ah Ray, itu masa ketika dewa kehancuran menyelinap dan membuat pikiranku tak mampu mencecap sebuah rasa kopi ataupun coklat hangat, sedangkan batu-batu ini tetap cantik dengan lukisan abstrak yang diciptakan lumut, lalu bagaimana dengan dirimu Ray? masihkah wangi sakura semerbak pada kulitmu yang langsat itu atau kau menghilang tanpa jejak pada lembah-lembah yang telah kita ciptakan, bahkan guguran daun-daun ini tak mengabarkanku tentang dirimu lewat bisingnya yang setiap malam selalu menghampiriku.
“tenanglah Ken, kumohon, air matamu yang jatuh bagaikan berlian yang begitu saja kau buang, dan itu menyakitiku” aku bahkan masih ingat ucapanmu itu Ray, saat kau membelai rambutku dengan berbagai perasaan, sedihkah? Sayangkah? Atau yang lain, namun saat itu aku tak mampu melihat diriku yang menurutmu tak tenang, aku hanya berlaku seperti adanya tubuhku, menangis ketika aku menginginkannya, menurutku itu sangatlah wajar Ray, bagimana aku bisa menatapmu dengan penuh cinta jika Ratu dari seluruh cinta yang ku punya akan segera musnah, lalu bagaimana aku tak menyakitimu dengan air mata yang sewaktu-waktu jatuh jika hatiku terasa remuk dan terhantam oleh karang-karang yang telah lama menjadi fosil sebab ulah manusia yang serakah, begitukah Ray, hingga kau menginginkan aku selalu terlihat manis dalam kondisi apapun? kau jahat Ray, yang tak membiarkan aku menyelami tragedi yang tengah ku jalani dengan caraku sendiri.
Lalu saat itu kita seperti dingin yang meyelinap di sela-sela rumput yang telah penuh dengan embun, tak mendapatkan daratan untuk meyibahkan hening yang selalu bergelantungan di jari-jari kita yang masih kosong, tak menemukan titik akhir untuk memecahkan tragedi yang menghadang, bukan! Tepatnya mengendalikan. Sebab aku yang kacau karena keadaan yang terus mencekik disetiap pembuluh darahku, dan kau yang tak tega melihatku seperti kertas kosong tanpa warna “pucat”, hal itu bagaikan mawar yang terasa seperti darah dan tengah bermekaran diantara kita, entahlah, apakah masalah selalu mendatangkan masalah baru yang terus melilit kisah kita dalam waktu yang tak memiliki batas.
Hingga hari berlaku dengan berbagai kabut yang menyimpan kisahnya masing-masing, aku mulai muak dengan tempat yang membuatku hampir gila dengan situasi yang selalu mencekam, bagaikan roh yang setiap saat meneror disetiap waktu dan setiap nafasku, saat itu aku memutuskan untuk pergi dan menerima apapun yang akan terjadi, kehilangan dia, kehilanganmu ataupun kehilangan keduanya, aku tak peduli pada takdir yang selalu mengejarku Ray, maka kulangkahkan kaki untuk pergi menepi dari halaman yang membuatku merintih kesakitan sebab tak menemukan obat untuk mengguyur tubuhku yang mendidih, dan sejak saat itu aku tak lagi menemuimu Ray, tak mendengarkan melody dari suaramu ataupun wangi dari aroma tubuhmu.
 “pergilah untuk menghirup angin yang lebih segar dan di pagi yang semerbak oleh harum melati aku akan menemuimu di taman yang sama” hanya kalimat ituyang terakhir kaliku dengar dari bibirmu hingga sayup-sayup suara itupun musnah bersama deru angin yang melintas di belakang langkahku, ketika purnama berganti aku kembali untuk menemuinyaRay, dan ternyata ia masih sangat mencintaiku, ia kembali Ray, dan kau belum kembali hingga kini, ia masih mengenalku dan aku tak mengerti apa kau masih mengenalku, ternyata Ratu dari segala cinta yang aku punya masih disana, menemaniku dari kejauhan, dan aku selalu menatapnya lewat sinar senja yang selalu jingga, seperti tatapan matanya, percayakah Ray?
Kini rumput-rumput tak bergoyang atau sekedar menyayikan senandung musim, aku tak mengerti, apa secara diam-diam mereka tengah mendegarkan ceritaku yang sedari tadi kuceritakan pada batu-batu mungil dihadapanku, atau memang tak ada angin yang menghampiri atau sekedar singgah untuk mereka? Ah, mereka terlihat sepertiku yang menunggumu menghampiriku Ray, sebenarnya begitu banyak kata yang ingin kusampaikan kepadamu, mungkin kau kecewa sebab aku tak bisa mencintaimu seperti mencintainya, dan hanya memberikanmu sedikit cinta yang ku punya dari semua cinta yang selalu kupelihara, bukan karena kau kurang Ray, namun hanya itu yang mampu kuberikan kepadamu, ya, hanya sekedar mengisi hatimu agar tak kerontang terhantam masa, agar musim dingin tak membekukan mawar di hatimu, Ray kini aku disini menanti janji waktu terhadapku, ketika hari semerbak oleh wangi melati kau akan menemuiku ditempat ini, dan angin telah mengabarkanku tentang harum melati yang sedari fajar mengelilingi taman ini, aku ingin mengajakmu menemuinya Ray, menemui segala cinta yang ku punya, mungkin ia kini tengah membuatkanku secangkir coklat hangat dengan campuran madu dan sesungging senyumnya yang selalu membuat segala hal menjadi istimewa, ibuku telah kembali Ray, dan kaupun harus kembali untuk memberikan nama pada lembah ini.

Surabaya, 19 April 2013

Oleh: Uul Rohmatul Hasanah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar