
Biar deru jadi asap yang
mengepul pada tiap jejak “kita” antara aku dan kamu Ray, lalu embun tumbuh
menjadi mimpi-mimpi yang berputar seperti capung di langit yang ungu, kita ini
lembah Ray, lembah yang masih belum punya nama, hingga langit akan menjadi
lebih tinggi, tepatnya sepertiga pada anganku yang telah ku jejalkan di
pohon-pohon mimpi yang beberapa waktu lalu kita tanam di atas bukit, namun
nyatanya namamu masih bisu meski aku mendayung sekuat badai hanya untuk sekedar
mendengar melodynya.
Di taman ini, ya, masih di taman
yang sama seperti dulu, batu-batu yang masih melumut dan rerumputan yang mulai
meninggi serta guguran daun mangga yang semerbak ke arah senja yang selalu
menebar wangi tubuhmu yang sewaktu-waktu melekat pada baju dan celana yang kau
kenakan, biar saja rindu ini berduyun-duyun terbang di setiap fajar, seperti
sekarang, dan malam yang tenang akan selalu riuh pada langitnya, agar dadaku
menjadi sedikit lebih lapang sebab tak lagi menemukan suaramu di tempat ini,
padahal waktu memberiku sebuah janji untuk mendengar lagu yang sama.
Biar saja aku menabur kisah
pada batu-batu yang ranum, ingatkah ketika kita seperti mawar yang bermandikan
embun di ujung hari yang lekat dengan gerimis? Kita bagaikan layang-layang yang
terbang pada tiap helaan angin, seperti burung-burung yang menyanyikan melody
daun disetiap ia menyinggahkan langkahnya yang mungil, lalu kita berdiam diri
dalam satu masa, dimana cerita tak bisa diungkapkan dan dinyanyikan pada
tapak-tapak tanah, aku yang mati oleh waktu.
Waktu yang amat menyayatku,
saat air mata bagaikan sedarah bersama jeritan-jeritan hati yang tak mampu ku
suarakan, ya, saat itu, ketika aku menghirup siang dengan berbagai aroma obat
dan jarum suntik yang membuatku mabuk oleh berbagai peristiwa, itukah terakhir
kau menemuiku? Hingga beberapa musim menceritakan perjalanan hidup, kau masih
tak menampakkan senyummu dari tempatmu bersemayam, hanya ketika orang yang
sangat aku cintai terbaring tak berdaya, dengan peralatan medis yang melilit
tubuhnya, kau duduk terpaku di sudut kamar yang dingin dan mengembun, entah apa
yang kau pikirkan Ray, apa kau turut berduka dengan segala yang menimpaku,
sebab kejadian itu membuatku seperti jalan setapak yang tak menemukan pejalan
kaki untuk mengharumkan jalurku, bahkan saat itu aku tak mampu membedakan rasa
sakit yang menikam berjuta kali setiap aku membayangkan jika ia akan segera
berpindah kehidupan menuju surga, sedangkan ia meninggalkan aku yang masih
sangat rapuh untuk menjejakkan kisah-kisah yang masih belum mempunyai alur.
Saat itu aku sempat berpikir
akan menyerahkan segala yang kumiliki demi dia, termasuk jika harus
kehilanganmu untuk menebus nyawanya, mungkin aku sedikit gila Ray sebab telah
mengorbankan dirimu untuk orang lain, namun begitulah kenyataannya, aku tak
mampu mengganti jingga di rona fajar dengan pelangi sepertimu, sebab ia mampu
menghadirkan malam dan mengembalikan pagi sesuai waktunya dalam tiap lembar
hidupku yang selalu ku coret-coret dengan tinta berwarna.
“kita akan melaluinya
bersama, aku akan selalu disini untukmu, bersabarlah semoga apapun yang terjadi
itulah yang terbaik” ingatkah ketika kau mengatakan hal itu padaku? pada sore
yang mulai padat dengan sejuta tanya di tiap helai rambutku yang membuatku
merasa semakin sesak “aku tak ingin dia pergi dari hidupku Ray, sekarang, esok
ataupun esoknya” lalu kau mendekapku dan aroma nafasmu yang mengalir di
ujung-ujung keningku mulai menghangatkan tubuhku, disana aku menemukan danau
yang mulai kehilangan kabutnya, dan sebuah sampan kan menjadi pelataran untuk
menyeberang ke lembah yang lebih hijau.
Disela-sela detik aku membeku
dalam diam, memikirkan berbagai kemungkinanyang bisa terjadi, dan kemungkinan
terburuk yakni aku tak lagi bisa menatap matanya di setiap hari-hariku pada
pagi,siang,sore dan malam-malam sebelum segerombolan jiwa-jiwa yang dikirim oleh
Tuhan mengajaknya berkeliaran ke dimensi yang berbeda dengan tubuhnya yang kini
terbaring tak berdaya, ia tak lagi mengenalku, dan tak lagi mendengar air
mataku yang berteriak-teriak memanggil jiwanya, sedangkan genggamanmu kini tak
lagi mengandung zat-zat yang dapat menenangkanku seperti genggamanmu
sebelumnya, langit seperti telah meretak dan sebentar lagi akan roboh dalam
atap-atap fikirku yang masih terbang melenggang yang mungkin akan jatuh jika ia
tak lagi membuka matanya.
Ah Ray, itu masa ketika dewa
kehancuran menyelinap dan membuat pikiranku tak mampu mencecap sebuah rasa kopi
ataupun coklat hangat, sedangkan batu-batu ini tetap cantik dengan lukisan
abstrak yang diciptakan lumut, lalu bagaimana dengan dirimu Ray? masihkah wangi
sakura semerbak pada kulitmu yang langsat itu atau kau menghilang tanpa jejak
pada lembah-lembah yang telah kita ciptakan, bahkan guguran daun-daun ini tak
mengabarkanku tentang dirimu lewat bisingnya yang setiap malam selalu
menghampiriku.
“tenanglah Ken, kumohon, air
matamu yang jatuh bagaikan berlian yang begitu saja kau buang, dan itu
menyakitiku” aku bahkan masih ingat ucapanmu itu Ray, saat kau membelai
rambutku dengan berbagai perasaan, sedihkah? Sayangkah? Atau yang lain, namun
saat itu aku tak mampu melihat diriku yang menurutmu tak tenang, aku hanya
berlaku seperti adanya tubuhku, menangis ketika aku menginginkannya, menurutku
itu sangatlah wajar Ray, bagimana aku bisa menatapmu dengan penuh cinta jika Ratu
dari seluruh cinta yang ku punya akan segera musnah, lalu bagaimana aku tak
menyakitimu dengan air mata yang sewaktu-waktu jatuh jika hatiku terasa remuk
dan terhantam oleh karang-karang yang telah lama menjadi fosil sebab ulah
manusia yang serakah, begitukah Ray, hingga kau menginginkan aku selalu terlihat
manis dalam kondisi apapun? kau jahat Ray, yang tak membiarkan aku menyelami
tragedi yang tengah ku jalani dengan caraku sendiri.
Lalu saat itu kita seperti
dingin yang meyelinap di sela-sela rumput yang telah penuh dengan embun, tak
mendapatkan daratan untuk meyibahkan hening yang selalu bergelantungan di
jari-jari kita yang masih kosong, tak menemukan titik akhir untuk memecahkan
tragedi yang menghadang, bukan! Tepatnya mengendalikan. Sebab aku yang kacau
karena keadaan yang terus mencekik disetiap pembuluh darahku, dan kau yang tak
tega melihatku seperti kertas kosong tanpa warna “pucat”, hal itu bagaikan
mawar yang terasa seperti darah dan tengah bermekaran diantara kita, entahlah,
apakah masalah selalu mendatangkan masalah baru yang terus melilit kisah kita
dalam waktu yang tak memiliki batas.
Hingga hari berlaku dengan
berbagai kabut yang menyimpan kisahnya masing-masing, aku mulai muak dengan
tempat yang membuatku hampir gila dengan situasi yang selalu mencekam, bagaikan
roh yang setiap saat meneror disetiap waktu dan setiap nafasku, saat itu aku
memutuskan untuk pergi dan menerima apapun yang akan terjadi, kehilangan dia,
kehilanganmu ataupun kehilangan keduanya, aku tak peduli pada takdir yang
selalu mengejarku Ray, maka kulangkahkan kaki untuk pergi menepi dari halaman
yang membuatku merintih kesakitan sebab tak menemukan obat untuk mengguyur
tubuhku yang mendidih, dan sejak saat itu aku tak lagi menemuimu Ray, tak
mendengarkan melody dari suaramu ataupun wangi dari aroma tubuhmu.
“pergilah untuk menghirup angin yang lebih
segar dan di pagi yang semerbak oleh harum melati aku akan menemuimu di taman
yang sama” hanya kalimat ituyang terakhir kaliku dengar dari bibirmu hingga
sayup-sayup suara itupun musnah bersama deru angin yang melintas di belakang langkahku,
ketika purnama berganti aku kembali untuk menemuinyaRay, dan ternyata ia masih
sangat mencintaiku, ia kembali Ray, dan kau belum kembali hingga kini, ia masih
mengenalku dan aku tak mengerti apa kau masih mengenalku, ternyata Ratu dari
segala cinta yang aku punya masih disana, menemaniku dari kejauhan, dan aku
selalu menatapnya lewat sinar senja yang selalu jingga, seperti tatapan matanya,
percayakah Ray?
Kini rumput-rumput tak
bergoyang atau sekedar menyayikan senandung musim, aku tak mengerti, apa secara
diam-diam mereka tengah mendegarkan ceritaku yang sedari tadi kuceritakan pada
batu-batu mungil dihadapanku, atau memang tak ada angin yang menghampiri atau
sekedar singgah untuk mereka? Ah, mereka terlihat sepertiku yang menunggumu
menghampiriku Ray, sebenarnya begitu banyak kata yang ingin kusampaikan kepadamu,
mungkin kau kecewa sebab aku tak bisa mencintaimu seperti mencintainya, dan
hanya memberikanmu sedikit cinta yang ku punya dari semua cinta yang selalu
kupelihara, bukan karena kau kurang Ray, namun hanya itu yang mampu kuberikan
kepadamu, ya, hanya sekedar mengisi hatimu agar tak kerontang terhantam masa,
agar musim dingin tak membekukan mawar di hatimu, Ray kini aku disini menanti
janji waktu terhadapku, ketika hari semerbak oleh wangi melati kau akan
menemuiku ditempat ini, dan angin telah mengabarkanku tentang harum melati yang
sedari fajar mengelilingi taman ini, aku ingin mengajakmu menemuinya Ray,
menemui segala cinta yang ku punya, mungkin ia kini tengah membuatkanku
secangkir coklat hangat dengan campuran madu dan sesungging senyumnya yang
selalu membuat segala hal menjadi istimewa, ibuku telah kembali Ray, dan kaupun
harus kembali untuk memberikan nama pada lembah ini.
Surabaya, 19 April 2013
Oleh: Uul Rohmatul Hasanah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar